Kamis, 04 Agustus 2016

Jiwa yang hilang





Aku tak menyangka, cinta itu masih ada dalam hatiku. Ingin sekali aku melupakan, semuanya, sampai tak tersisa lagi serpihan kisahku dengannya di masa lalu. Tapi, kisah itu hanya akan hilang sementara, dan tetap membekas sakitnya di hatiku yang kian rapuh dan mati. Aku tak bisa merasakan rasa itu kembali, hatiku telah mati, mati karena terlampau tersakiti. Aku ingin hidup menyendiri. Cinta hanya akan membuat hidupku sengsara dan nelangsa. Kemanakah aku harus mengobati rasa sakit hatiku ini?
Akankah aku mau menerima obat itu jikalau obat itu juga bisa membuatku sakit hati. Cinta yang telah membuatku sakit dan cinta pulalah yang bisa mengobati rasa sakit itu. Entahlah, aku sepertinya tak ingin mengenal apa itu cinta. Dia telah membuatku terluka. Orang yang sangat aku kasihi, sahabat, semua penuh dengan cinta tapi menyakitkan. Hidup, cinta, sakit dan mati.
Aku bagaikan orang yang mati. Aku tak bisa merasakan apapun. Pikiranku kosong entah ke mana. Siapa yang telah memasungku dan mengurungku di Istana nan megah ini? Istana cinta telah mengurung jiwa dan hatiku. Cinta yang datang akan pergi setelah meyakitiku. Hidupku sudah hancur lebur menjadi debu. Sakit ini akan aku bawa sampai mati. Dimanakah mereka yang dulu menyayangiku? Mengatasnamakan cinta. Di mana?
Betapa senangnya hatiku, saat aku merasakan indahnya rasa cinta. Rasa yang membuat hatiku berbunga-bunga dan terbang membumbung tinggi di angkasa. Sungguh, tak pernah aku merasakan rasa yang membuat hatiku bergetar nan hebat. Rindu, gugup dan senang yang tidak keruan. Terkadang aku tertawa bahagia, terkadang aku menangis tersedu-sedu. Terkadang aku bersemangat, dan terkadang aku lemah dan tak berdaya. Tak ada kekuatan dalam tubuh ini. Hanya diam membisu, memikirkan sesuatu dan pikiranku tak bekerja untuk hal lain.
Pertemuanku dengan Rehan, membuatku jatuh cinta padanya. Cinta yang berujung dengan rasa sakit yang teramat dalam. Tatkala dua hati menyakitiku dari sudut yang berbeda. “Ternyata, kamu suka dengan Rehan. Kenapa kamu tidak bilang?” Tanya Hesty.
“Aku malu, Hes. Lagian, dia orangnya cuek..” Kataku.
“Justru kamu yang cuek. Kemarin, waktu dia meneleponmu, malah kamu matiin. Kenapa?” Tanya Hesty. Aku hanya diam saja.
Aku tak menyangka, jika aku bisa bertemu dengan Rehan. Pertemuan yang sengaja direncanakan oleh Rehan dan juga Hesty. Mereka memang sudah saling kenal. Aku tahu Rehan saat ia sedang mengembalikan buku di perpustakaan. Tapi sayang, aku tak berani menatapnya, perasan itu, senang dan takut. Entahlah, aku tak bisa mengatakan bagaimana semrawutnya perasaanku kala itu. Dan aku pun senang dengan pertemuan itu. Pertemuan yang sangat mengejutkanku. Saat bertemu dan duduk berdua, aku tak berani untuk menatap orang yang aku cintai itu. Ingin sekali aku menatapnya, tapi wajah ini enggan mendongak dan berpaling menatapnya.
Ia hanya diam dan sesekali mengajakku berbicara. Dari situlah hubunganku dengan Rehan mulai terjalin. Tapi, aku tak merasakan ada yang istimewa dalam hubungan ini. Tak ada kejalasan pasti antara aku dengannya. Dia tak menunjukkan reaksi apa pun. Bagiku, Rehan adalah manusia bunglon yang bisa berubah warna. Terkadang ia bersifat manis dan perhatian terhadapku. Ia menunjukkan cinta dan perhatiannya. Tetapi, terkadang ia cuek dan memebiarkanku begitu saja. Aku dibuat bingung akan permainannya. Tak sadarkah dia, aku telah menyimpan rasa cinta yang dalam untuknya. Kenapa dia mempermainkan perasaanku yang tulus ini.
“Sudahlah, kamu tunggu saja. Dia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakannya..” Kata Hesty.
“Dia sangat membingungkan. Aku sudah memberinya perhatian dan menunjukkan bahwa aku sangat menyukainya. Tetapi, dia terkadang membuatku terbang dan terkadang membuatku terjatuh. Tapi, aku sangat mencintainya. Aku mencintainya, Hes..” Kataku.
“Iya, aku tahu, dia adalah orang pertama dalam hidupmu..” Kata Hesty.
Aku sepertinya tak bisa hidup tanpanya. Tapi, hubungan itu tak membuahkan hasil apa-apa. Dia tak juga menyatakan cintanya. Hingga aku bingung dan marah akan sikapnya terhadapku. Sikapnya yang selalu mempermainkan perasaanku. Ketika aku mulai bosan dengan sikapnya, dia selalu mendekatiku dan berbuat baik padaku. Dia sms, telepon dan mengajak pergi jalan-jalan. Tapi, dia hanya memanfaatkan aku untuk menghibur kekosongan hatinya. Aku begitu mudah dipermainkan olehnya.
Aku pun pergi dan tak ingin bertemu dengannya. Aku terlampau sakit hati dengannya. Ungkapan cintaku padanya hanya dibalas dengan cemoohan.
“Kamu jangan pede amat jadi cewek.” Katanya padaku. Hancur, hancur hatiku. Ku korbankan semua, hidupku dan juga prestasiku. Semua raib entah ke mana. Hilang bersama cinta itu. Tak ada semangat dan gairah untuk hidup kembali. Pengalaman mengecap manisnya cinta pertama hilang dan meninggalkan luka dalam. Sungguh pengalaman yang menyakitkan.
Kegalauan hatiku mengantarkanku merangkai sebuah kata-kata, sebagai luapan amarah dan gejolak cinta yang ada dalam hatiku. Sebuah buku yang menjadi saksi akan hancurnya perasaanku. Sebuah buku yang menjadi diriku terkenal. Bahkan, Rehan mungkin tahu apa sebenarnya yang aku tulis dan siapa yang sebenarnya aku hujat sebagai laki-laki yang jahat dalam novel yang banyak digandrungi orang-orang itu. Buku tulis yang sudah usang, lecek dan luntur tulisannya. Karena saat menulisnya, air mataku tak kuasa aku tahan. Hingga ia mengucur deras dari persembunyiannya.
Lewat buku itulah sebuah novel terlaris karya Hanifa lahir dan membuatnya terkenal. Siapa sangka, sebuah novel yang penuh dengan kebencian, dendam dan amarah yang meluap-luap itu banyak digandrungi semua orang. Hanya aku, Rehan dan Hesti yang tahu di balik novel itu. “Cinta dan Pengkhianatan.” sebuah novel yang mengisahkan sakit yang pernah ditorehkan Rehan. Dah Hesty sahabatku, yang telah mengkhianatiku dan bermain cinta dengan Rehan di belakangku.
Akulah Hanifa, sang penulis terkenal yang penuh dengan misteri dalam hidupnya. Novel-novelnya sangat misterius dan meledak di pasaran. Seorang penulis yang dikenal ramah, baik dan sopan, tapi penuh dendam kepada orang yang telah menyakitinya. Ia hanya bisa menuangkanyan lewat tulisan. Sulit untuk menyelami maksud di balik novel-novelnya. Cinta dan Sakit itulah yang telah membuat ia menjadi terkenal dan kaya.
“Mbak Hanifa, minta tanda tangannya, dong.” Kata penggemarku yang mengerumuniku.
“Ia sebentar, ya.” Kataku saat mereka berdesakkan ingin meminta tanda tangan dan bahkan sekedar berjabat tangan denganku.
“Sabar, ya!” Kataku membuat mereka tenang.
“Mbak, ceritakan kisah anda hingga bisa membuat novel sebagus ini, Mbak!” Kata mereka. Aku hanya tersenyum.
Andaikan mereka tahu, sebuah novel yang penuh dengan rasa sakit. Jika aku mau, aku ingin cerita dalam novel itu bukanlah pengalaman pahit dan sakit yang aku rasakan dalam hidupku. Jika aku bisa memilih, aku akan menuliskan pengalaman pahit dan sakit yang dialami oleh orang lain. Jadi, aku tak merasakan sakit itu. Mungkin, ini hidup yang harus aku jalani. Skenario yang harus aku jalani sekaligus. Dalam novel dan dalam Dunia nyata. Siapa sangka, jika apa yang tertuang dalam novel itu adalah kisah perih dalam hidupku sendiri. Mereka hanya tahu, aku hidup menjadi orang terkenal dengan novel itu, kaya dan penuh dengan prestasi. Tapi, mereka tidak pernah tahu, hidupku rapuh dan hancur. Jiwaku telah mati untuk bisa merasakn apa itu cinta. Rasa sakit yang diberikan oleh Rehan dan pengkhianatan Hesty membuatku hancur.
Tuntutan untuk tetap menulis membuatku stres dan bingung. Jiwa dan batinku masih merasakan sakit. Seorang penulis terkenal yang selalu hidup menyendiri. Banyak orang bertanya kenapa aku belum menikah. Dan memilih tinggal jauh dari keramaian kota. Hidup disibukkan dengan menulis dan menulis. Kisah yang ditulisnya tak pernah berujung bahagia. Ciri khas Hanifa, memang sangat fenomenal. Ingin rasanya aku mati saja. Meninggalkan kisah dalam novel-novel itu. Mereka tak pernah tahu di balik novel itu. Akulah tokoh utamanya. Mereka hanya penikmat rasa sakit dan pahitnya kisah hidupku. Mereka tidak pernah tahu akan posisiku sebagai penulis sekaligus pemeran utama cerita itu. Jiwaku benar-benar telah mati. Aku ingin secepatnya pergi. Pergi dan pergi.
“Novel ini akan menjadi karya terakhir Hanifa. Tak akan ada cerita-cerita menyakitkan yang aku torehkan. Aku tak berarti apa-apa hidup di dunia ini. Cinta telah membuat jiwaku mati hingga aku tak bisa merasakan cinta itu lagi. Cerita kematian sang novelis handallah yang akan menjadi cerita baru, dan entah siapa yang akan menulisnya..” Kataku terakhir. Sebilah pisau yang tergeletak di samping buah apel, aku genggam dan aku goreskan pada lengan kiriku. Seketika, pergelangan tanganku dilingkari gelang berwarna merah dan kental, mengalir deras.
Sekarang, tak ada lagi sang novelis cinta Hanifa. Dia telah tiada dan menyisakan duka mendalam di hati penggemarnya. Kisahnya yang sangat menyentuh hati, dan kematiannya yang misterius. Tak ada yang menyangka, jika hidupnya hancur karena cinta dan pengkhianatan sahabatnya sendiri. Selama ini, ia hanya hidup menyendiri menuliskan kisah sedih dan perihnya hidup yang ia alami. Semua tidak menyangka sang novelis terkenal itu telah tiada dan menyimpan banyak rahasia dalam novel dan kehidupan yang nyata. Karyanya telah putus sudah.
Dan kini, kisah hidupnya menjadi cerita baru dengan hadirnya penuis-penulis baru. Kisah kematiannya yang misterius itulah yang menjadi cerita baru. Mungkin sekarang Hanifa telah tenang dengan berakhirnya kisah yang harus ia alami dalam novel dan juga dunia nyata. Kini ia telah hidup dalam dunia barunya. Tapi, selamanya, ia akan tetap hidup dalam sakit, dendam dan amarah yang akan terlihat dan nampak dalam karya-karyanya.
Selesai
:

"

Tanpa Nama


Cinta telah membawa sebuah penantian panjang dalam hidup Rahma. Penantian yang tiada ujungnya. Penantian yang tiada titik temu dalam perjalanan mencari sebuah petunjuk. Kebimbangan dan kegalauan menggelayuti dirinya. Mengusik kehidupan dan meninggalkan sebuah luka. Pencarian dan penantian begitu lama ia hadapi. Siapa? Dimana? Dan kemana?
Sebuah puisi dalam secarik kertas, masih ia simpan dalam sebuah kotak di laci kamarnya. Sebuah puisi tanpa nama. ‘Siapa gerangan? Dan untuk apa?’ Hatinya terus diliputi tanya dan rasa penasaran. Prahara mulai memanas dan memuncak, tatkala ada cinta dalam hatinya. Sebuah cinta yang tak tahu harus ia uangkapkan kepada siapa. Memendam cinta abu-abu bagai hidup tanpa arah dan tujuan.
Hati kecilnya enggan untuk menyerah. Mencari dan terus mencari. Siapakah gerangan yang telah menulis puisi nan indah untuknya. Cinta telah hadir lantaran membaca lantunan bait cinta nan indah dan mendayu-dayu. Mengalun lembut mengikuti sebuah irama, menyentuh hati hingga terasa nikmat yang luar biasa. ‘Akankah cinta ini terbalas?’
“Sampai kapan aku harus mencari? Dan akan terus menanti. Penantian yang mungkin tiada berarti dan hanya sia-sia.” Rahma mengamati sebuah secarik kertas bertuliskan puisi itu. Hatinya menerawang jauh, penuh kebimbangan dan tanya. Hatinya tak kuasa menopang cinta yang teramat besar dibalut rasa penasaran. Matanya terus terbuka tanpa berkedip. Berfikir dan menerawang kejadian-kejadian di masa lampau.
“Apakah benar, Dony yang telah menuliskan puisi ini untukku?” Tanya Rahma. Ia sangat mengagumi Dony. Dia adalah teman sekelas Rahma di kampusnya. Tapi, selama ini ia hanya memendam perasaannya pada Dony. Ia tak berani mengungkapkan rasa kagumnya terhadap Dony. Ia hanya bisa hidup dengan perasaannya. Hidup dengan bayang-bayang cinta semu.
Kemarin, ia melihat Dony meminjam buku yang sekarang ia pinjam. Ternyata, di dalam buku itu bertuliskan sebuah puisi. Puisi yang mengungkapkan perasaan cinta terhadap seseorang. ‘Tetapi, untuk siapa puisi itu ditulis?’ Tanya Rahma dalam hati. Hatinya terus bertanya, dan berharap bahwa puisi itu Dony tulis untuk dirinya. Sekarang, Dony juga mulai mendekatinya. Dulu, ia sangat cuek terhadap Rahma. Hatinya pun semakin penasaran. “Apa benar, Dony menuliskan puisi ini untukku?” Tanya Rahma pada dirinya sendiri.
Rahma memasukkan puisi itu ke dalam laci meja belajarnya. Kemudian ia berbaring di atas kasur membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Hatinya masih penasaran dengan puisi itu. Apalagi, kini sikap Dony terhadapnya juga berubah. Tidak seperti dulu, cuek. ‘Tapi, kenapa justru Dony lebih sering membahas Angga? Aneh!.” Pikir Rahma.
“Sudahlah. Yang penting, sekarang aku sangat senang dengan puisi itu. Entah itu dari Dony atau bukan, tak masalah bagiku. Tapi, apa benar hatiku merelakan Dony begitu saja? Aku sangat mencintainya. Kalau bukan untukku, lalu untuk siapa? Siapa wanita yang Dony maksud dalam puisinya itu? Kenapa Aku melihat tulisan Rahma dalam kertas itu? Terus sikap Dony juga biasa padaku, hanya lebih akrab saja.” Kata Rahma panjang lebar.
Rahma hanya bisa menebak dengan hati yang diliputi rasa penasaran yang terus menggunung. Ia tak tahu harus mencari tahu dari mana. Tapi, ia juga tak kuasa menahan perasaannya terhadap Dony. “Angga, kan sahabatnya Dony. Tapi, sikapnya begitu cuek terhadapku. Bahkan, dia terlihat kaku saat aku bertanya padanya. Kenapa, ya?” Tanya Rahma penasaran. “Mereka berdua benar-benar aneh, akhir-akhir ini.” Kata Rahma.
Rahma mendapatkan puisi lagi dari sebuah buku yang ia pinjam dari perpustakaan kampusnya. Entah siapa yang telah menuliskan puisi nan indah itu. Dan untuk siapa puisi itu ditulis. Luapan perasaan, dan jeritan terdengar tatkala ia membacanya. Merinding seketika, hawa sejuk dingin menggelayuti leher dan tubuhnya. Sebuah puisi permintaan maaf terhadap orang yang sangat dicintai. ‘Ah…, mungkin ini hanya perasaanku saja, yang tengah merindukan seseorang’. Kata Rahma tatkala membacanya. Ia sadar, bahwa puisi itu bukan untuknya.
Ia tetap menyimpan puisi itu dalam sebuah kotak. Kini, ia mempunyai sebuah misi mencari titik temu akan sebuah puisi nan misteruis itu. ‘Siapakah gerangan yang telah menulisnya’ Katanya dalam hati. Puisi yang lahir dari buah pemikiran dan luapan perasaan yang teramat dalam. “Kata maaf untuk apa? Sakit apa yang sebenarnya ia lakukan pada kekasihnya?” Tanya Rahma pada dirinya sendiri. “Sebuah puisi tanpa nama. Tapi penuh makna.” Kata Rahma. “Apakah puisi ini amat berarti dalam hidup orang itu? Hingga secarik kertas bertuliskan puisi ini bergelombang dan memudar penanya. Sepertinya, air mata kesedihan telah membasahi kertas ini saat ia menulisnya.” Kata Rahma. “Aku tidak bisa menggambarkan rasa sedih seperti apa yang ia rasakan. Dan menyakiti seperti apa yang ia maksudkan.” Kata Rahma lagi.
Maafkan Aku
Maafkan aku jika pertemuan itu membuat hatimu sakit
Ingin sekali aku membalas senyum yang sudah kau berikan
Tapi aku justru membalasnya tanpa senyuman
Ingin sekali aku membalas tatapan yang kau tujukan padaku
Tapi aku berpaling seolah-olah tidak tahu
Ingin sekali bercanda seperti pertemuan dahulu
Tapi aku justru membalasnya dengan kebisuan
Ingin sekali engkau pergi dengan membawa segunung semangat yang aku berikan
Tapi aku justru memberikan beban seluas air di lautan
Maafkan aku,
Ingin sekali engkau mengerti apa yang ada di dalam lubuk hati ini
Sikapku membuatmu marah
Jika kau mau menggali lebih dalam
Akan engkau temukan cinta yang selama ini kau cari
Tapi..
Aku tak mengerti dengan jalan otakku
Menyakiti dan selalu menyakiti orang yang ku cintai
“Kamu mau kemana, Ma?” Tanya Eva, teman satu kelasnya. “Aku mau ke perpustakaan, mengembalikan buku.” Jawab Rahma. “Kalau begitu, aku ke kantin dulu ya, sama Aris.” Kata Eva sambil tersenyum pada Aris. “Oke…” Jawab Rahma. Ingin sekali ia bisa bermesraan, dan terpancar kebahagiaan karena cinta, sebagaimana apa yang tengah Eva dan Aris rasakan. ‘Tapi, sayang. Kini Dony telah tiada. Namun, rasa cinta ini entah kenapa masih saja bersarang di hatiku. Bahkan, aku belum sempat mengutaraknnya, saat ia pergi untuk selama-lamanya’ Kata Rahma dalam hati, kemudian membuka pintu perpustakaan untuk masuk.
Rahma langsung mengambil posisi duduk di bawah AC, sesudah mengurus pengembalian bukunya. Di sampingnya, ada dua orang cewek. Matanya memerah, hidungnya memerah dan sesekali ia mengusapnya dengan tisu. Kedua pipinya basah karena air mata. Rahma hanya menatapnya sejenak, kemudian mengabaikan kedua orang itu. “Maafkan aku Don…” Isak cewek yang sedang menangis. “Sudahlah, Sya! Kamu harus bisa melupakannya. Dia sudah pergi.” Kata temannya menenangkan. “Aku mungkin saja bisa melupakannya. Tapi, aku merasa bersalah pada Don. Aku tidak bisa melupakan kesalahanku pada Don.” Jawab cewek itu.
“Dia sudah tiada. Kamu harus bisa bangkit. Jangan sampai kamu terus dihantui rasa bersalah itu. Kamu akan semakin tertekan.” Kata temannya. “Sudahlah Sya, Dony sudah tiada. Aku yakin dia pasti memaafkanmu.” Kata Angga yang langsung mengejutkan Rahma yang sedang membaca, mengalihkan perhatiannya. Hatinya seperti di hantam godang, hancur lebur tak karuan.
“Aku menulis puisi untuknya sebagai ungkapan maaf. Aku menaruhnya di dalam buku yang aku pinjam dari perpustakaan, dan aku lupa mengambilnya. Aku ingin memberikan puisi itu pada Don, aku ingin ia membacanya, aku ingin dia tahu bahwa aku sangat mencintainya. Sikapku selama ini terhadapnya, hanya sebuah kesalahpahaman. Aku bersikap demikian karena aku trauma dengan masa laluku yang sering disakiti. Aku tidak bermaksud menyakitinya. Tapi, kini Don telah tiada…” Kata cewek yang dipanggil, Sya oleh temanya dan juga Angga. Ia menagis tersedu-sedu dan tidak bisa menahannya.
‘Apa?! Jadi, puisi yang berjudul maafkan aku itu? Cewek itu yang menulisnya? Untuk Dony, orang yang telah disakitinya. Orang yang sangat menintainya.’ Kata Rahma dalam hati. Hatinya penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. Rahma begitu sangat mencintai Dony. Tentu ia tak ingin ada orang lain yang menyakitinya, bahkan hingga membuatnya bunuh diri hanya karena cinta terhadap cewek itu. Hatinya sakit.
“Ini puisimu. Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau puisi itu milikmu. Aku menemukannya di dalam buku yang aku pinjam. Tidak seharusnya kamu menyakiti, Dony. Dia sangat mencintaimu. Dan aku…” Rahma menghentikan perkataannya sejenak. “Aku sangat mencintai Dony. Tak ada sedikit pun kata menyakiti dalam hatiku. Terlebih untuk orang yang sangat aku cintai.” Rahma kemudian pergi begitu saja. “Aku tidak bermaksud menyakitinya… aku sangat mencntai Don…” teriak gadis itu sambil menangis meraung semakin keras. Ia tak mau dikatakan bahwa dirinya telah menyakiti orang yang sangat mencintainya.
Angga pun segera mengejar Rahma yang keluar dari perpustakaan. “Tunggu Rahma!” Angga meraih tangan Rahma. “Lepaskan aku Angga. Aku sangat benci dengan gadis itu. Tega-teganya dia menyakiti Dony. Dony tidak akan senekat itu, dengan melakukan bunuh diri hanya karena gadis itu. Dia merasa bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa orang yang dicintainya. Lalu bagaimana denganku? Aku sangat mencintainya. Dan aku sangat sakit saat mengetahui Dony mati gara-gara dia. Orang yang sangat dicintai Dony.” Rahma menangis di hadapan Angga. Kemudian ia duduk pada sebuah kursi.
“Aku pernah mendapat puisi. Sebuah puisi tanpa nama. Di sana tertulis namaku, Rahma. Aku merasa bahwa itu dari Dony. Karena sikapnya akhir-akhir ini padaku jauh berbeda dari sebelumnya, dia begitu ramah dan dekat denganku. Tapi, melihat kenyataan ini rasanya semua itu tidaklah mungkin. Dony lebih mencintai wanita itu. Entahlah…, lebih baik aku lupakan saja puisi-puisi tanpa nama itu. Semua ini hanya perasaanku saja yang terlalu merindukan seseorang.” Kata Rahma yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“Kenapa Rahma, aku masih belum bisa memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaanku padamu.” Kata Angga, sambil mengamati foto Rahma yang ia dapatkan dari Dony. “Kini, Dony sudah tiada. Tak ada seseorang yang bisa menolongku. Aku hanyalah pengecut. Laki-laki yang tidak punya keberanian. Bahkan, untuk memperjuangkan cintaku sendiri.” Kata Angga.
“Itu hanyalah sebuah puisi tanpa nama, aku tak memiliki keberanian juga untuk menuliskan namaku di kertas itu. Andaikan aku menuliskannya, niscaya aku akan menolong diriku sendiri saat Dony sudah tiada. Ini kebodohanku, dan aku hanyalah seorang pengecut…!” Angga pun membakar foto Rahma, dan mengambil sebilah pisau yang bersandar di buah apel, lantas ia memotong urat nadinya. Cinta benar-benar telah membuat ia putus asa dalam menjalani hidupnya. Hingga ia harus mengakhiri kisah cinta dan hidupnya.
Selesai