Wanita separuh baya asik mengeruk sampah dan dimasukkan didalam tas
Plastik hitam besar miliknya. Dengan penuh pengorbanan melawan panasnya
matahari hari ini dan pulang saat Senja tiba. Keringatnya membasahi
keningnya. Sesekali ia mengusap keningnya untuk menghapus keringatnya.
Baju yang tak lagi bersih ia gunakan. Celana pendek yang dipenuhi
dengan kotoran akibat terkena sampah masih juga ia gunakan untuk
mendapatkan uang.
Ia wanita, sebagai Ibu yang mengurus rumah tangga dan juga sebagai
kepala keluarga. Suaminya tlah lama meninggal akibat jatuh dari bangunan
tinggi. Hanya sebuah becak, yang ia punya sebagai alat transportasi.
Saat matahari masih belum muncul sempurna, wanita itu sudah semangat
mendapatkan rupiah untuk menyekolahkan Appril. Wanita itu bangun
sebelum ayam berkokok dan adzan berkumandang. Segera ia keluarkan
becaknya dan segera membersihkannya, setelah itu ia memasak walau hanya
menggoreng tempe dengan kerupuk.
***
"Buk, kata bu Guru, jika Appril nggak bayar uang SPP Appril nggak
boleh ikut pelajaran. Terus tadi waktu sekolah, Sepatu Appril sudaj
rusak, sobek dan terasa sakit jika dipakai. Apa ibu punya uang?jika
tidak, bolehkan Appril kerja kayak ibu?ayolah, Appril nggak mau nyusahin
ibu".
Ibunya berhenti melipat sajadah setelah ia melakukan sholat di Masjid.
Appril yang terlihat sangat sedih, hanya menatap sepasang mata Ibunya yang mulai membendung air mata.
"Appril dirumah aja ya, biar ibu yang cari uangnya. Maafkan ibu nak, ibu nggak bikin kamu bahagia".
Appril termenung mendengar ucapan yang terlontarkan dari mulut ibunya.
Keinginannya ingin sekolah tanpa setiap hari di panggil oleh Guru
untuk menagih uang Spp. Lebih lagi, kakinya yang sudah lecet akibat
sepatunya yang rusak membuat keinginannya untuk membeli sepatu bagus
yang terjual ditoko. Bukan mengambil di rongsokan.
kesedihan menyelimuti hati mereka. Keluarga kecil yang dipenuhi
dengan cobaan. Cobaan yang mampu membuat mereka tak sanggup lagi
bertahan hidup. Tapi ada sebuah Cιπ†α dan kasih sayang mereka yang mampu
membendung putus asa.
***
"Maaf Appril, kamu nggak bisa ngikutin pelajaran karna kamu belum membayar uang Spp. Dan juga kamu belum beli sebuah LKS".
Deg..
Deg..
Deg...
Hatinya Merintih kesakitan. Matanya tak sanggup lagi untuk
membendung air mata. Kakinya yang masih sakit berusaha untuk berlari
akibat keputus asa'an.
Ia berlari sekuat tenaga. Dan merenungi semua nasibnya. ia berhenti
tepat ditaman sekolahnya. Appril hanya diam terpaku diiringi dengan
tetesan air mata.
Teeettttttt.....
Bel sekolah sudah berbunyi, semua siswa keluar dari kelas untuk istirahat dan mengisi perutnya.
"Hmmm, liat ni aku punya Es krim dan siomay. Hahaha nggak kayak
dia, dia pasti kelaparan dan menangis tak punya uang". Semua hinaan yang
terdengar lantang dari telinga Appril membuat hatinya semakin kecil.
Мέмαиб benar, ia merasakan lapar dan haus. Ia tahan semua rasa
laparnya. Bibirnya sesekali mengecap karna ingin merasakan makanan yang
teman-temannya rasakan.
***
Ibu Appril sekuat tenaga mengumpulkan uang untuk membelikan Appril sepatu baru agar kakinya tak lagi merasakan kesakitan.
Ia menguras seluruh tenaga. Setelah menjadi seorang tukang becak, ia
berjalan menuju pasar untuk menjadi orang bantu disana. Setelah langit
berubah menjadi warna Jingga, Senja pun datang.
Ibu Appril memarkirkan becaknya didepan gubuknya. Ia kembali
membanting tulang sebagai seorang pemulung. Ia kumpulkan barang-barang
bekas yang dapat ia jual. Sampai malam harinya pun ia tetap sekuat
tenaga menggendong sampah-sampah yang dapat dijual kembali.
***
Seulas senyum kini dilakukannya. Bahagia, sangat bahagia melihat hasil kerja yang ia lakukan demi anaknya.
Ia menghitung jumlah uang yang ia dapat tadi. Sepertinya, uang
˚̷ɪ̷̜̇ťΰ lebih dari cukup untuk membeli sepatu dan membayar uang Spp.
Ia kantongi lagi uang itu dan berjalan menuju rumah kepala sekolah
Appril untuk membayar uang SPP. Setelah selesai membayar uang Spp, ia
berjalan menyusuri ramainya jalan raya.
Matanya sangat membuat hatinya bahagia saat melihat sebuah toko
sepatu berdiri tepat didepannya. Ia segera memasuki toko tersebut dan
membelikan sebuah sepatu.
****
Appril menunggu cemas tepat didepan gubuknya. Dimanakah seorang
ibunya? Becak sudah terparkir tepat didepan gubuknya. namun ibunya tak
ada. 10menit kemudian ia tunggu sampai ia meneteskan air matanya.
Namun, kesedihan itu terpecahkan saat matanya menangkap sebuah wajah
ibunya sudah berdiri diseberang jalan dengan kwitansi dan sebuah sepatu
baru untuknya.
Ibunya tersenyum bahagia melihat Appril sudah menungunya didepan
gubuknya. Gubuknya terletak diseberang jalan , tanpa berpikir panjan ia
menyebrang untuk menghampiri anaknya. Namun..
Brakkkk.....
Duarrrrrr......
Nasib malang menimpanya. Sebuah truk besar berhasil menabrak tubuh wanita separuh baya itu.
"Ibuuuuuu". Segera Appril menghampiri ibunya diseberang jalan dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
Appril memeluk tubuh ibunya yang dipenuhi dengan darah.
"Ini sepatu untukmu,dan besuk Appril harus sekolah ibu sudah
membayar Spp nya, maafkan ibu tak bisa merawatmu sampai kau besar. Allah
sudah memanggil ibumu ini nak. Teruskanlah pendidikanmu, jangan sampai
kamu putus sekolah. Terus semangat dan jangan sampai menyerah". Ibu
Appril menyodorkan sepatu yang tadi ia belikan untuk anaknya. Tangannya
berdarah, sampai banyak bercak darah disepatu itu.
Appril terus saja memeluk ibunya dengan jeritan hati mencekam.
Ia semakin sedih saat mengetahui ini adalah hembusan nafas terakhir ibunya.
Ibunya yang bertekad seperti sosok ibu kartini.
Bertekad untuk menyekolahkan Appril.
Bertekad untuk membelikan sepatu baru untuk Appril.
Bertekad menahan rasa lapar sewaktu kerja.
Bertekad menghidupi Appril dengan tubuhnya yang mulai renta.
Bertekad untuk memberikan kebahagiaan untuk Appril.
Semua yang diberikannya bagaikan seindah bunga mekar dan secantik bidadari.
Appril bangga mempunyai ibu seperti Ibu Kartini.
Ibu yang selalu menjujung tinggi nama pendidikan, ibu yang selalu mendorong anaknya untuk belajar.
Ibu yang mengorbankan tenaganya untuk menyekolahkan anaknya.
Dialah ibu yang Appril banggakan.
Dialah ibu yang Appril Cιπ†α.
Dialah Ibu yang Appril sayang.
Dialah ibu yang slalu ia kenang.
Dia Ibu...
Ibu...
Dan Ibu...
Senin, 03 Maret 2014
Cinta tak harus dimiliki
Dia menyusuri jalan tanpa henti-hentinya Menangis. Berada ditengah-tengah keramaian orang.
Tempat orang-orang memiliki tujuan untuk berbelanja , tapi berbeda dengannya.
Tujuan utamannya adalah menjauh dari laki-laki yang ia puja. Berusaha untuk menahan rasa cιπ†α yang ada. Berusaha untuk mengalah demi kebahagiaan mereka.
Cιπ†α мέмαиб butuh berkorban. Maka, inilah yang disebut pengorbanan.
Menahan rasa sesak didada. Melawan kata cιπ†α di hati. Menutupi kerasnya jeritan hati nya. Agnes мέмαиб membutuhkan itu. Menutupi hati dengan tembok baja yang mampu membawanya dalam ketegaran.
Dia terus berlari. Matanya tak perduli keadaan sekitar. Langkahnya berusaha untuk ikut serta menguatkan hati yang kini terasa makin sakit.
Air matanya kini tlah berhasil membuat pipinya basah.
Agnes hanya ingin pergi dari sosok laki-laki yang ia cintai. Setelah munculnya penyakit yang hampir membuat Agnes putus asa untuk melanjutkan hidup kembali. Ia tak ingin kekasihnya menyesal telah menjadi pendampingnya. Tak lepas pula perasaan kakaknya yang jatuh cιπ†α kepada Dito. Kenyataan ini memaksa Agnes untuk selalu rela, bertahan bahkan Tegar.
Tak sadar, Dito tlah berhasil memeluk Agnes dari belakang tubuhnya.
Agnes yang mengerti bahwa itu Dito, secepat mungkin ia membalikkan badan dan memeluk Dito. Ia menangis dibahu Dito. Dito memeluk erat tubuh Agnes. Mereka berdua tak peduli berapa pasang mata tlah menatap mereka dengan penuh kebinggungan.
"Jangan pergi Agnes".
"Kau tak memenuhi permintaanku".
Dito menghela nafas kembali saat mendengar ucapan gila dari mulut Agnes.
"Permintaanmu itu konyol!mana mungkin aku sanggup berhenti mencintaimu dan memulai cιπ†α baru dengan kakakmu".
Perlahan, Agnes melepaskan pelukannya. Ia kecewa dengan pernyataan Dito. Agnes tak lagi berbicara, ia termenung dalam kesunyian yang mencekam hati.
****
"Anda perlu melakukan khemoteraphi seminggu tiga kali dan atau menjalankan sebuah operasi".
Saat suara dokter nyaring terdengar di telinga Agnes, saat itulah ia teringat kembali pada 2orang yang ia sayangi.
Tak ada pilihan dihidupnya.
Menjalani kemotherapy atau operasi. Jika ia lakukan salah satu dari pengobatan tersebut, kak Appril dan Dito pasti akan tau penyakitnya.
Lagi pula, cιπ†α nya kini di Ambang rasa binggung. Tertutup oleh kabut hitam lekat. Tak ada pintu walau secuil pun untuk masuk kedalam cintanya.
Dihati nya tak ada siapapun. Namun, dihatinya masih ada bayangan sosok Dito. Yang sebentar lagi akan milik kakaknya. Ia memang benar-benar harus rela dengan semua ini.
***
"Kak, Dito ajak kakak Dinner nanti malam". Dusta Agnes.
Seketika Appril berhenti melahap makanannya saat mendengar ucapan Agnes yang tiba-tiba membuat hatinya seakan hidup kembali, setelah menunggu Dito merespon hatinya.
"Kenapa dia nggak bilang ke aku langsung ya?oke, yaudah deh jam berapa?".
"Saat Senja mulai hilang".
***
Saat Mendekati waktu Senja, Agnes mengeluarkan handphone nya dari saku Dress nya. Ia mengirimkan pesan untuk Dito. Appril yang sempat melihat Agnes sibuk dengan Handphone nya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
Senja pun berakhir, warna Jingga pun mulai redup. Dito yang sudah memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Agnes segera mengetuk pintu rumah Agnes.
"Nes?tolong bukakan pintu dong, pasti itu Dito. Kakak lagi cari gadget kakak". Ucap Appril yang sibuk mencari gadgetnya yang entah lari kemana.
Tangan Agnes perlahan meraih Handle pintu rumahnya, dan segera membukanya. Mata Dito terbelalak saat melihat penampilan Agnes yang sangat sederhana. Hanya menggunakan celana pendek dengan kaos polos.
"Loh?bukankah kita akan Dinner?".
Agnes hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
***
Dinner pertama yang seharusnya membuat hati Appril sangat bahagia lenyaplah sudah. Dinner yang ia harapkan adalah keromantisan yang tergambarkan dari perilaku Dito. Namun, Dito hanya Diam dan tak ingin mengawali pembicaraan. Mimik wajahnya tak menggambarkan sebuah kesenangan.
"Dit?kamu sakit ya?".
Dito hanya menggeleng pelan tanpa memandang wajah Appril.
Kekecewaan pun melanda hati Appril. Tapi ia bertekad bahwa adik kesayangannya tak boleh mengetahui keadaan ini. Ia tak ingin melihat kesedihan menempel pada hatinya.
Appril rasa, cukup dia saja yang tau bahwa hatinya kini tlah hancur.
***
Tok..Tok...Tok
Appril terbangun dari tidurnya yang lelap akibat dinner tadi malam. Segera ia buka pintu kamarnya.
Matanya seketika terbelalak kaget saat melihat keadaan wajah adiknya sangat pucat, dan dengan rambut yang sudah tak lagi panjang. Mungkin ia memotong rambutnya semalam. Tapi, wajahnya kini sangat pucat.
"Kau sakit?kenapa dengan rambutmu?kau sakit apa Agnes!?".
"Cuman,cuman,cuman sakit.....sakit itu..em oh ya kak, kakak abis ini dandan yang cantik. Dito udah jemput kakak didepan rumah, dandan yang Cantik ya!".
Agnes berjalan pergi dari kamar Appril dan keluar menemui Dito yang sudah memakai Kemeja dengan Jeans panjang. Dito kembali merasakan kebingungan saat melihat Agnes masih menggunakan pakaian tidur. Agnes hanya tersenyum melihat mimik wajah Dito.
"Loh ini kenapa lagi? Kenapa masih menggunakan pakaian tidur. Bukankah kita akan hangout?".
Lagi-lagi, Agnes menggeleng pelan, dan masuk kedalam rumah.
***
Mereka berdua terpaku diam tanpa suara. Diiringi dengan tenangnya air mengalir disungai dekat taman itu. Bunga-bunga mengalun perlahan mengikuti kemana terbangnya angin.
Membuat keadaan ini semakin sunyi.
Tak ada yang ingin mengawali pembicaraan. Bahkan hanya seucap kata tak terlontarkan dari mulut mereka.
Drrrtt...
Handphone Dito bergetar, segera ia Ambil handphone nya dari saku jeans nya.
'Mas Dito, mbak Agnes mas, dia sedang kritis dirumah sakit. Mbak Agnes mempunyai penyakit leukimia yang kini sudah menyebar diseluruh tubuhnya..mas dito cepet dateng ya.'
Matanya terbelalak melihat sms dari mbok inah pembantu Agnes dirumah.
Dan yang sangat ia kagetkan, mengapa selama ini Agnes sama sekali tak memberitahukan tentang penyakitnya kepadaku. Hatinya hancur. Seakan Dito tak sanggup lagi bernafas.
Segera ia raih tangan kanan Appril dan menuntun cepat Appril untuk segera masuk kedalam mobil.
Appril yang tak dapat penjelasan dari Dito mengapa Dito tiba-tiba membawaku masuk kedalam mobil dan menyetir mobil milik Dito menuju Rumah sakit. Appril tak tega menanyakan kebingungannya disaat Dito sedang panik.
****
Appril dan Dito sangat kaget melihat orang yang disayanginya sedang terbaring lemah diatas kasur, dilengkapi dengan infus, oksigen dan berbagai alat medis yang sedang menempel pada tubuhnya.
Appril mendekati Agnes dengan penuh rasa iba. Ia genggam tangan kanan Agnes dan mulai menangis penuh dengan kekhawatiran. Tak berbeda jauh dari Dito. Dito menggengam erat tangan kiri Agnes. Air matanya mulai menetes dan berhasil membuat pipinya basah akibat air matanya.
Agnes mulai bergerak. Matanya kini mulai bangun. Dia berikan seulas senyum kepada Appril dan Dito.
Diraihnya tangan mereka berdua dan digenggamkan menjadi satu sebuah genggaman.
"Kalian berjanji akan hidup bersama?Dito jaga kakak aku ya, jangan pernah sakiti dia. Karna cιπ†α dan hati ku akan aku titipkan pada kakakku. Jika kau sakiti kakakku, aku juga akan sangat sakit". Ujar Agnes lirih karna tak kuat lagi untuk berbicara.
Appril hanya mengangguk dan tangisnya mulai membara. Dito tak kuat melihat keadaan Agnes sekarang.
"Agnes, kamu harus kuat!Agnes yang aku tau itu bukan lemah!". Teriak Dito semaikin menjadi-jadi.
Agnes melambaikan tangan kepada mereka. Dan seketika nyawanya pergi meninggalkan tubuh Agnes. Tangis Dito dan Appril dapat memenuhi suara disetiap sudut ruangan itu.
Dan saat dirinya terbang jauh tinggi keawan, dirinya sadar bahwa semua adalah Cιπ†α.
Cιπ†α membutuhkan pengorbanan...
Cιπ†α membutuhkan Ketegaran...
Cιπ†α Membutuhkan keiklashan.
Cιπ†α Membutuhkan Ujian...
Baru ia Sadari bahwa Sebuah
Cιπ†α Мέмαиб Tak Harus Dimiliki....
Tempat orang-orang memiliki tujuan untuk berbelanja , tapi berbeda dengannya.
Tujuan utamannya adalah menjauh dari laki-laki yang ia puja. Berusaha untuk menahan rasa cιπ†α yang ada. Berusaha untuk mengalah demi kebahagiaan mereka.
Cιπ†α мέмαиб butuh berkorban. Maka, inilah yang disebut pengorbanan.
Menahan rasa sesak didada. Melawan kata cιπ†α di hati. Menutupi kerasnya jeritan hati nya. Agnes мέмαиб membutuhkan itu. Menutupi hati dengan tembok baja yang mampu membawanya dalam ketegaran.
Dia terus berlari. Matanya tak perduli keadaan sekitar. Langkahnya berusaha untuk ikut serta menguatkan hati yang kini terasa makin sakit.
Air matanya kini tlah berhasil membuat pipinya basah.
Agnes hanya ingin pergi dari sosok laki-laki yang ia cintai. Setelah munculnya penyakit yang hampir membuat Agnes putus asa untuk melanjutkan hidup kembali. Ia tak ingin kekasihnya menyesal telah menjadi pendampingnya. Tak lepas pula perasaan kakaknya yang jatuh cιπ†α kepada Dito. Kenyataan ini memaksa Agnes untuk selalu rela, bertahan bahkan Tegar.
Tak sadar, Dito tlah berhasil memeluk Agnes dari belakang tubuhnya.
Agnes yang mengerti bahwa itu Dito, secepat mungkin ia membalikkan badan dan memeluk Dito. Ia menangis dibahu Dito. Dito memeluk erat tubuh Agnes. Mereka berdua tak peduli berapa pasang mata tlah menatap mereka dengan penuh kebinggungan.
"Jangan pergi Agnes".
"Kau tak memenuhi permintaanku".
Dito menghela nafas kembali saat mendengar ucapan gila dari mulut Agnes.
"Permintaanmu itu konyol!mana mungkin aku sanggup berhenti mencintaimu dan memulai cιπ†α baru dengan kakakmu".
Perlahan, Agnes melepaskan pelukannya. Ia kecewa dengan pernyataan Dito. Agnes tak lagi berbicara, ia termenung dalam kesunyian yang mencekam hati.
****
"Anda perlu melakukan khemoteraphi seminggu tiga kali dan atau menjalankan sebuah operasi".
Saat suara dokter nyaring terdengar di telinga Agnes, saat itulah ia teringat kembali pada 2orang yang ia sayangi.
Tak ada pilihan dihidupnya.
Menjalani kemotherapy atau operasi. Jika ia lakukan salah satu dari pengobatan tersebut, kak Appril dan Dito pasti akan tau penyakitnya.
Lagi pula, cιπ†α nya kini di Ambang rasa binggung. Tertutup oleh kabut hitam lekat. Tak ada pintu walau secuil pun untuk masuk kedalam cintanya.
Dihati nya tak ada siapapun. Namun, dihatinya masih ada bayangan sosok Dito. Yang sebentar lagi akan milik kakaknya. Ia memang benar-benar harus rela dengan semua ini.
***
"Kak, Dito ajak kakak Dinner nanti malam". Dusta Agnes.
Seketika Appril berhenti melahap makanannya saat mendengar ucapan Agnes yang tiba-tiba membuat hatinya seakan hidup kembali, setelah menunggu Dito merespon hatinya.
"Kenapa dia nggak bilang ke aku langsung ya?oke, yaudah deh jam berapa?".
"Saat Senja mulai hilang".
***
Saat Mendekati waktu Senja, Agnes mengeluarkan handphone nya dari saku Dress nya. Ia mengirimkan pesan untuk Dito. Appril yang sempat melihat Agnes sibuk dengan Handphone nya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
Senja pun berakhir, warna Jingga pun mulai redup. Dito yang sudah memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Agnes segera mengetuk pintu rumah Agnes.
"Nes?tolong bukakan pintu dong, pasti itu Dito. Kakak lagi cari gadget kakak". Ucap Appril yang sibuk mencari gadgetnya yang entah lari kemana.
Tangan Agnes perlahan meraih Handle pintu rumahnya, dan segera membukanya. Mata Dito terbelalak saat melihat penampilan Agnes yang sangat sederhana. Hanya menggunakan celana pendek dengan kaos polos.
"Loh?bukankah kita akan Dinner?".
Agnes hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
***
Dinner pertama yang seharusnya membuat hati Appril sangat bahagia lenyaplah sudah. Dinner yang ia harapkan adalah keromantisan yang tergambarkan dari perilaku Dito. Namun, Dito hanya Diam dan tak ingin mengawali pembicaraan. Mimik wajahnya tak menggambarkan sebuah kesenangan.
"Dit?kamu sakit ya?".
Dito hanya menggeleng pelan tanpa memandang wajah Appril.
Kekecewaan pun melanda hati Appril. Tapi ia bertekad bahwa adik kesayangannya tak boleh mengetahui keadaan ini. Ia tak ingin melihat kesedihan menempel pada hatinya.
Appril rasa, cukup dia saja yang tau bahwa hatinya kini tlah hancur.
***
Tok..Tok...Tok
Appril terbangun dari tidurnya yang lelap akibat dinner tadi malam. Segera ia buka pintu kamarnya.
Matanya seketika terbelalak kaget saat melihat keadaan wajah adiknya sangat pucat, dan dengan rambut yang sudah tak lagi panjang. Mungkin ia memotong rambutnya semalam. Tapi, wajahnya kini sangat pucat.
"Kau sakit?kenapa dengan rambutmu?kau sakit apa Agnes!?".
"Cuman,cuman,cuman sakit.....sakit itu..em oh ya kak, kakak abis ini dandan yang cantik. Dito udah jemput kakak didepan rumah, dandan yang Cantik ya!".
Agnes berjalan pergi dari kamar Appril dan keluar menemui Dito yang sudah memakai Kemeja dengan Jeans panjang. Dito kembali merasakan kebingungan saat melihat Agnes masih menggunakan pakaian tidur. Agnes hanya tersenyum melihat mimik wajah Dito.
"Loh ini kenapa lagi? Kenapa masih menggunakan pakaian tidur. Bukankah kita akan hangout?".
Lagi-lagi, Agnes menggeleng pelan, dan masuk kedalam rumah.
***
Mereka berdua terpaku diam tanpa suara. Diiringi dengan tenangnya air mengalir disungai dekat taman itu. Bunga-bunga mengalun perlahan mengikuti kemana terbangnya angin.
Membuat keadaan ini semakin sunyi.
Tak ada yang ingin mengawali pembicaraan. Bahkan hanya seucap kata tak terlontarkan dari mulut mereka.
Drrrtt...
Handphone Dito bergetar, segera ia Ambil handphone nya dari saku jeans nya.
'Mas Dito, mbak Agnes mas, dia sedang kritis dirumah sakit. Mbak Agnes mempunyai penyakit leukimia yang kini sudah menyebar diseluruh tubuhnya..mas dito cepet dateng ya.'
Matanya terbelalak melihat sms dari mbok inah pembantu Agnes dirumah.
Dan yang sangat ia kagetkan, mengapa selama ini Agnes sama sekali tak memberitahukan tentang penyakitnya kepadaku. Hatinya hancur. Seakan Dito tak sanggup lagi bernafas.
Segera ia raih tangan kanan Appril dan menuntun cepat Appril untuk segera masuk kedalam mobil.
Appril yang tak dapat penjelasan dari Dito mengapa Dito tiba-tiba membawaku masuk kedalam mobil dan menyetir mobil milik Dito menuju Rumah sakit. Appril tak tega menanyakan kebingungannya disaat Dito sedang panik.
****
Appril dan Dito sangat kaget melihat orang yang disayanginya sedang terbaring lemah diatas kasur, dilengkapi dengan infus, oksigen dan berbagai alat medis yang sedang menempel pada tubuhnya.
Appril mendekati Agnes dengan penuh rasa iba. Ia genggam tangan kanan Agnes dan mulai menangis penuh dengan kekhawatiran. Tak berbeda jauh dari Dito. Dito menggengam erat tangan kiri Agnes. Air matanya mulai menetes dan berhasil membuat pipinya basah akibat air matanya.
Agnes mulai bergerak. Matanya kini mulai bangun. Dia berikan seulas senyum kepada Appril dan Dito.
Diraihnya tangan mereka berdua dan digenggamkan menjadi satu sebuah genggaman.
"Kalian berjanji akan hidup bersama?Dito jaga kakak aku ya, jangan pernah sakiti dia. Karna cιπ†α dan hati ku akan aku titipkan pada kakakku. Jika kau sakiti kakakku, aku juga akan sangat sakit". Ujar Agnes lirih karna tak kuat lagi untuk berbicara.
Appril hanya mengangguk dan tangisnya mulai membara. Dito tak kuat melihat keadaan Agnes sekarang.
"Agnes, kamu harus kuat!Agnes yang aku tau itu bukan lemah!". Teriak Dito semaikin menjadi-jadi.
Agnes melambaikan tangan kepada mereka. Dan seketika nyawanya pergi meninggalkan tubuh Agnes. Tangis Dito dan Appril dapat memenuhi suara disetiap sudut ruangan itu.
Dan saat dirinya terbang jauh tinggi keawan, dirinya sadar bahwa semua adalah Cιπ†α.
Cιπ†α membutuhkan pengorbanan...
Cιπ†α membutuhkan Ketegaran...
Cιπ†α Membutuhkan keiklashan.
Cιπ†α Membutuhkan Ujian...
Baru ia Sadari bahwa Sebuah
Cιπ†α Мέмαиб Tak Harus Dimiliki....
Minggu, 02 Maret 2014
Separuh Coklat Hati
Aku terlelap dalam mimpi indah ku yang mampu membawa ku dalam
ketenangan. Entah sampai kapan laki-laki separuh baya ini masih menemani
disampingku. Setelah aku sadar kehadiran laki-laki ini membuatku terasa
dalam kehidupan damai dengan melawati jalan tanpa sebuah cacat sedikit
pun. Kehadiran laki-laki ini mampu membuatku tersenyum lepas.
Dia bagaikan matahari yang slalu membantu bulan untuk menyinari bumi walau memang pada malam hari ia tak kunjung datang. Namun Bulan, dia terlihat sendiri tapi, tak dapat berdiri sendiri.
Itulah kehidupanku, aku diciptakan dengan kedua kaki ku untuk berjalan melangkah secara bergiliran. Hati ku terlelap sendiri, tapi tak dapat berdiri sendiri. laki-laki itulah yang telah berani mengambil hati ku. Sekarang, dimana tanggung jawab nya. Dimana ia sekarang, aku sudah muak menerima ini. Hanya sebatang Coklat itulah yang kau beri kepada ku sebagai tanda tanggung jawab.
* * *
"Bulan, aku ingin kita ke puncak Besuk".
Aku heran dengan ucapan teman dekatku. Jarang bahkan mungkin sama sekali tak pernah ia mengatakan ingin ke puncak . Mata ku tlah berhasil dibuatnya terbelalak.
"Ha?untuk apa Binar? Tidak, aku nggak akan ngizinin kamu pergi. Kamu punya kaca kan? Lihat keadaanmu sekarang!". Jujur saja, aku sangat khawatir dengan keadaannya. Bibirnya pucat, semangat nya kini hilang diterpa angin dan terbawa oleh gelombang air laut. Mata nya tak lagi cerah, bak air sungai tercemari Sampah-sampah jahat menyerang.
"Hmm, sebelum hari Valentine"
"Valentine?" Desisku panjang.
* * *
Hari ini mata ku terasa segar kembali melihat pohon-pohon mengayun bergoyang pelan. Daun-daun menari disorong angin sepoi-sepoi.
Berulang kali aku tersenyum melihat semua yang telah ditangkap oleh Mataku sendiri.
Tak sadar aku kembali merasakan kenyamanan. Tangan ku digenggam erat oleh Binar. Diciumnya beberapa kali tanpa rasa bosan menyelinap hati nya. Dia hatnya menatap kedua mata ku dengan sangat lekat. Disetiap sudut mataku, ia lakukan hal yang sama.
Menerobos masuk kedalam bagian dalam pupil mataku.
"Happy valentine"ujarnya sesekali mencium tanganku yang sudah berhasil berkeringat karna ulahnya.
"Hmm, kenapa kamu lakukan ini semua"
Suasana hening, tak terdengar alunan suara darinya. Ia hanya menyodorkan Coklat berbentuk hati di lindungi oleh kardus indah berwarna pink dengan putih sebagai atapnya. Jadi, dengan mudah mengintip isi kardus itu dengan mudah. Binar mengambilnya dari saku celana Jins nya. Ia tersenyum padaku.
"bawa coklat ini pulang, oh ya dibuka nanti malam. Just for you"
Ku gelengkan kepala ku pelan. Ini semua seperti mimpi seorang Putri mendapatkan sebuah coklat dan untuk membuka nya saja punya aturan.
* * *
Kubuka perlahan isi kardus Valentine yang Binar berikan tadi. Aku semakin. Tak mengerti dengan semua ini. Terselip sebuah kertas berisi goresan tangan Binar bertinta merah.
Jantungku semakin berdetak tak karuan. Kubaca dengan sangat teliti surat dari Binar.
(Bulan, maafkan aku. Aku sengaja meninggalkanmu. Aku tak ingin dekat denganmu dalam keadaanku seperti ini. Aku harus menjalankan Operasi di Jepang. I love you.. Aku akan kembali saat keadaanku memang benar-benar sehat. Entah itu 10 tahun lagi. Aku harap kamu juga mencintaiku.. Terimalah coklat hati dari ku I love you)
"Binar!" Teriakku diiringi dengan. kesedihan hati, jiwa dan mata. Aku tak dapat membendung air yang telah bergenang di mataku. Suara ku kini tlah mampu memenuhi ruangan, hingga orang-orang yang tak tau apa yang aku rasakan , mengira aku sudah gila. Kudekap coklat hati darinya. Tak ada bagian coklat yang aku cuil sedikit pun.
Hingga akhirnya, aku datang setiap harinya ke tempat pertama coklat ini jatuh ditanganku. Hanya suara ayunan lemah angin menghantam pelan dedaunan dan kicauan burung bernyanyi.
Aku sedikit kecewa dengannya. Binar? Dimana kamu sekarang.. Aku terduduk lemas tanpa energi yang tersisa. Aku duduk lagi-lagi ditempat pertama coklat itu jatuh ditanganku.
"Binar!!! Dimana kamu! Ini sudah hari Valentine tahun ke 14. Tapi dimana letak bantang hidungmu! Kau jahat!" Aku teriak sekeras mungkin berharap seseorang yang ku harapkan mendengarnya.
Sebuah lemparan coklat dengan kertas diatasnya entah dilempar dari mana asalnya, itu cukup membuat hati ku agak terdorong lega dan sedikit demi sedikit dapat merasakan nafas yang setiap kali kuhirup.
Kubuka perlahan isi surat itu..
Dan..
( aku sudah menyuruh seseorang untuk mengirimkan 14 coklat ku untuk mu dirumahmu. Aku rasa, aku tak dapat melanjutkan mengirimkan coklat untuk valentine selanjutnya. Aku terbaring lemas diatas ranjang kasur rumahku di Indonesia telah lama kurang lebih 3bulan. Aku ingin kau berikan aku cukup 1 coklat hati untuk yang terakhir kalinya, aku ingin disaat bulan kehilangan cahaya Binarnya. Datanglah dirumahku, aku akan mengabadikan semuanya sampai tutup usia ku)
* * *
Aku terbaring diatas rerumputan hijau menggelar diatas bumi. Melawan panasnya matahari, dan memandang luasnya langit biru.
Binar tak berubah bagi ku. Dia tetap berhasil membuat tanganku berkeringat. Diterbaring lemah disampingku.
Ku ambil coklat hati dari tas pinggang pink ku yang sudah kusediakan tadi.
Ku angkat tinggi-tinggi coklat hati. Kupotong menjadi 2 bagian. Dan bagian 1 ku berikan kepada binar.
"Ini. Just for you. Kamu tau betapa sakitnya coklat dibagianku karna sudah ku pisahkan dengan coklat pasangannya. Jadi, inilah keadaanku saat kau pergi separuh hati ku mengikuti dimana setiap kau pergi. Aku mohon, kamu kuat melawan penyakitmu. " Ujarku memeluknya. Badanya semakin dingin tak melakukan gerakan sedikit pun. Coklat hati yang ia pegang tiba-tiba lepas sendirinya. Nafasku mulai terpenggal-penggal. Kugoyangkan tubuhnya. Tak ada reaksi.
Kugenggam erat tangannya. Ku letakkan separuh coklat hati didadanya. Tubuhku masih terhempaskan pada rumput hijau bersama laki-laki yang aku cintai. Kuletakkan separuh coklat hati milikku tepat di hatiku. Aku tersenyum. Aku memandang putihnya awan, birunya langit dan cerahnya matahari, namun pandanganku sedikit demi sedikit gelap. Nafasku sedikit demi sedikit menghilang. Genggamanku mulai terlepas. Kini kurasakan, terbang.
Terbang jauh tinggi bersama Binar menggunakan burung sebagai transportasinya. Kugenggam separuh coklat hati. Binar pun tak mau kalah. Aku bercanda, tertawa , bahagia dan tersenyum diatas langit biru bersamanya..
Bersama Binar dan sepotong Coklat Hati....
Baru ku tau arti sebuah Valentine. Hampir 14 tahun lamanya hati ku menghilang entah kemana, 14 tahun memendam rasa kasih sayang.
14 tahun aku dibuat jera olehnya.
Hingga Valentine yang terakhir kali aku rasakan , inilah hari kasih sayang yang tergambar jelas pada terakhir sampai ku tutup usia dengan Binar.
Tangan ku digenggam erat olehnya. Kupeluk tubuhnya. Kita berdua tersenyum memandang orang-orang dihari Valentine dan Coklat hati.
Aku rasa aku sangat bahagia hidup tidur nyenyak di awan putih bersama Binar.
Dan aku menemui Bulan seperti halnya nama ku.
Aku tak memikirkan apakah tubuhku dengan tubuh binar sudah dikuburkan. Karna yang aku tahu, sepotong coklat hati menempel pada dadaku dan dadanya.
Inilah kisah Cinta ku pada Valentine.
Terbang bersama Binar dan.... Sepotong Coklat hati.
Dia bagaikan matahari yang slalu membantu bulan untuk menyinari bumi walau memang pada malam hari ia tak kunjung datang. Namun Bulan, dia terlihat sendiri tapi, tak dapat berdiri sendiri.
Itulah kehidupanku, aku diciptakan dengan kedua kaki ku untuk berjalan melangkah secara bergiliran. Hati ku terlelap sendiri, tapi tak dapat berdiri sendiri. laki-laki itulah yang telah berani mengambil hati ku. Sekarang, dimana tanggung jawab nya. Dimana ia sekarang, aku sudah muak menerima ini. Hanya sebatang Coklat itulah yang kau beri kepada ku sebagai tanda tanggung jawab.
* * *
"Bulan, aku ingin kita ke puncak Besuk".
Aku heran dengan ucapan teman dekatku. Jarang bahkan mungkin sama sekali tak pernah ia mengatakan ingin ke puncak . Mata ku tlah berhasil dibuatnya terbelalak.
"Ha?untuk apa Binar? Tidak, aku nggak akan ngizinin kamu pergi. Kamu punya kaca kan? Lihat keadaanmu sekarang!". Jujur saja, aku sangat khawatir dengan keadaannya. Bibirnya pucat, semangat nya kini hilang diterpa angin dan terbawa oleh gelombang air laut. Mata nya tak lagi cerah, bak air sungai tercemari Sampah-sampah jahat menyerang.
"Hmm, sebelum hari Valentine"
"Valentine?" Desisku panjang.
* * *
Hari ini mata ku terasa segar kembali melihat pohon-pohon mengayun bergoyang pelan. Daun-daun menari disorong angin sepoi-sepoi.
Berulang kali aku tersenyum melihat semua yang telah ditangkap oleh Mataku sendiri.
Tak sadar aku kembali merasakan kenyamanan. Tangan ku digenggam erat oleh Binar. Diciumnya beberapa kali tanpa rasa bosan menyelinap hati nya. Dia hatnya menatap kedua mata ku dengan sangat lekat. Disetiap sudut mataku, ia lakukan hal yang sama.
Menerobos masuk kedalam bagian dalam pupil mataku.
"Happy valentine"ujarnya sesekali mencium tanganku yang sudah berhasil berkeringat karna ulahnya.
"Hmm, kenapa kamu lakukan ini semua"
Suasana hening, tak terdengar alunan suara darinya. Ia hanya menyodorkan Coklat berbentuk hati di lindungi oleh kardus indah berwarna pink dengan putih sebagai atapnya. Jadi, dengan mudah mengintip isi kardus itu dengan mudah. Binar mengambilnya dari saku celana Jins nya. Ia tersenyum padaku.
"bawa coklat ini pulang, oh ya dibuka nanti malam. Just for you"
Ku gelengkan kepala ku pelan. Ini semua seperti mimpi seorang Putri mendapatkan sebuah coklat dan untuk membuka nya saja punya aturan.
* * *
Kubuka perlahan isi kardus Valentine yang Binar berikan tadi. Aku semakin. Tak mengerti dengan semua ini. Terselip sebuah kertas berisi goresan tangan Binar bertinta merah.
Jantungku semakin berdetak tak karuan. Kubaca dengan sangat teliti surat dari Binar.
(Bulan, maafkan aku. Aku sengaja meninggalkanmu. Aku tak ingin dekat denganmu dalam keadaanku seperti ini. Aku harus menjalankan Operasi di Jepang. I love you.. Aku akan kembali saat keadaanku memang benar-benar sehat. Entah itu 10 tahun lagi. Aku harap kamu juga mencintaiku.. Terimalah coklat hati dari ku I love you)
"Binar!" Teriakku diiringi dengan. kesedihan hati, jiwa dan mata. Aku tak dapat membendung air yang telah bergenang di mataku. Suara ku kini tlah mampu memenuhi ruangan, hingga orang-orang yang tak tau apa yang aku rasakan , mengira aku sudah gila. Kudekap coklat hati darinya. Tak ada bagian coklat yang aku cuil sedikit pun.
Hingga akhirnya, aku datang setiap harinya ke tempat pertama coklat ini jatuh ditanganku. Hanya suara ayunan lemah angin menghantam pelan dedaunan dan kicauan burung bernyanyi.
Aku sedikit kecewa dengannya. Binar? Dimana kamu sekarang.. Aku terduduk lemas tanpa energi yang tersisa. Aku duduk lagi-lagi ditempat pertama coklat itu jatuh ditanganku.
"Binar!!! Dimana kamu! Ini sudah hari Valentine tahun ke 14. Tapi dimana letak bantang hidungmu! Kau jahat!" Aku teriak sekeras mungkin berharap seseorang yang ku harapkan mendengarnya.
Sebuah lemparan coklat dengan kertas diatasnya entah dilempar dari mana asalnya, itu cukup membuat hati ku agak terdorong lega dan sedikit demi sedikit dapat merasakan nafas yang setiap kali kuhirup.
Kubuka perlahan isi surat itu..
Dan..
( aku sudah menyuruh seseorang untuk mengirimkan 14 coklat ku untuk mu dirumahmu. Aku rasa, aku tak dapat melanjutkan mengirimkan coklat untuk valentine selanjutnya. Aku terbaring lemas diatas ranjang kasur rumahku di Indonesia telah lama kurang lebih 3bulan. Aku ingin kau berikan aku cukup 1 coklat hati untuk yang terakhir kalinya, aku ingin disaat bulan kehilangan cahaya Binarnya. Datanglah dirumahku, aku akan mengabadikan semuanya sampai tutup usia ku)
* * *
Aku terbaring diatas rerumputan hijau menggelar diatas bumi. Melawan panasnya matahari, dan memandang luasnya langit biru.
Binar tak berubah bagi ku. Dia tetap berhasil membuat tanganku berkeringat. Diterbaring lemah disampingku.
Ku ambil coklat hati dari tas pinggang pink ku yang sudah kusediakan tadi.
Ku angkat tinggi-tinggi coklat hati. Kupotong menjadi 2 bagian. Dan bagian 1 ku berikan kepada binar.
"Ini. Just for you. Kamu tau betapa sakitnya coklat dibagianku karna sudah ku pisahkan dengan coklat pasangannya. Jadi, inilah keadaanku saat kau pergi separuh hati ku mengikuti dimana setiap kau pergi. Aku mohon, kamu kuat melawan penyakitmu. " Ujarku memeluknya. Badanya semakin dingin tak melakukan gerakan sedikit pun. Coklat hati yang ia pegang tiba-tiba lepas sendirinya. Nafasku mulai terpenggal-penggal. Kugoyangkan tubuhnya. Tak ada reaksi.
Kugenggam erat tangannya. Ku letakkan separuh coklat hati didadanya. Tubuhku masih terhempaskan pada rumput hijau bersama laki-laki yang aku cintai. Kuletakkan separuh coklat hati milikku tepat di hatiku. Aku tersenyum. Aku memandang putihnya awan, birunya langit dan cerahnya matahari, namun pandanganku sedikit demi sedikit gelap. Nafasku sedikit demi sedikit menghilang. Genggamanku mulai terlepas. Kini kurasakan, terbang.
Terbang jauh tinggi bersama Binar menggunakan burung sebagai transportasinya. Kugenggam separuh coklat hati. Binar pun tak mau kalah. Aku bercanda, tertawa , bahagia dan tersenyum diatas langit biru bersamanya..
Bersama Binar dan sepotong Coklat Hati....
Baru ku tau arti sebuah Valentine. Hampir 14 tahun lamanya hati ku menghilang entah kemana, 14 tahun memendam rasa kasih sayang.
14 tahun aku dibuat jera olehnya.
Hingga Valentine yang terakhir kali aku rasakan , inilah hari kasih sayang yang tergambar jelas pada terakhir sampai ku tutup usia dengan Binar.
Tangan ku digenggam erat olehnya. Kupeluk tubuhnya. Kita berdua tersenyum memandang orang-orang dihari Valentine dan Coklat hati.
Aku rasa aku sangat bahagia hidup tidur nyenyak di awan putih bersama Binar.
Dan aku menemui Bulan seperti halnya nama ku.
Aku tak memikirkan apakah tubuhku dengan tubuh binar sudah dikuburkan. Karna yang aku tahu, sepotong coklat hati menempel pada dadaku dan dadanya.
Inilah kisah Cinta ku pada Valentine.
Terbang bersama Binar dan.... Sepotong Coklat hati.
Cinta Sejati
Cinta Sejati
Aku melangkah dengan tubuh sempoyongan. Kepala ku sama sekali tak berani
untuk mendongak. Mataku hanya menatap permukaan jalan dengan menyusuri
setiap langkahan kaki ku.
Benar-benar hari ini hari yang nggak sama sekali tak aku inginkan.
Aku pertama kali memasuki bangku 'SMA' mungkin terlihat menyenangkan.
Aku pun senang masuk disekolah SMA. Tapi kenapa harus memakai acara Mos.
Acara Mos sangat tak menarik hati.
Kebayang nggak si, harus pakai kalung bawang, rambut diikat dua berpita pink. Lagi pula, aku juga nggak tergolong cewek centil dan menyukai warna pink. Aku mungkin nggak mau sama sekali terlihat Feminim.
Tetttttttttt
Bel sekolah berbunyi dengan sangat kerasnya hingga telinga ku dapat mengerti dan memahami apa artinya.
Segera kuberlari ku ayunkan kedua kaki ku secara bergiliran dengan cepat.
Huh.... Akhirnya sampai juga dikelas.
Setelah mungkin 10 menit kemudian Osis yang siap melakukan Mos datang dikelasku. Tak ada sama sekali yang menarik bagi ku. Ya, mungkin mereka tampan. Tiga orang laki-laki dan satu perempuan. Vino, Dion, Alvin dan Tasya.
"Kamu!" Hati ku tersentak dan jantungku berdegup lebih kencang lagi saat ketua osis menunjuk ku dengan pandangan suram.
"I.I...iya" jawabku.
"Jangan Melamun! Enak aja ya kamu nglamun saat pelajaran saya!"
Aku hanya mengangguk pelan tanpa suara. Hati ku terenyuh lembut.
* * *
Kulemparkan tas ku kedalam kamarku begitu saja. Mama pun hanya menatap ku penuh pertanyaan. Bukan aku namanya, jika bibirku tak ku tekuk menjadi lipatan manyun.
"Gimana tadi? Menyenangkan"
Apa? Menyenangkan, itu sama sekali tak tersentuh hati ku. Apakah benar yang disebut menyenangkan itu saat dimana orang-orang menerima penindasan yang sangat kejam. Nggak mungkinlah! Aku yakin seratuh persen kalau memang mimik wajah Mama mengetahui keadaanku sekarang,lalu mengapa mama harus melontarkan kata-kata yang Norak buat aku denger.
"Hmm,gitu deh ma.. Mama kaya nggak pernah muda aja deh" ujarku mendekati Mama yang sedang memasak.
Aku rasa , adegan norak yang tadi aku alami sudah waktunya aku pendam dan mulai melupakannya. Karna saat ini aku dan cacing-cacing diperutku mulai kampanye . Rasa Laparku terpancing saat kulihat olahan Ayam terpampang jelas didalam panci. Tangan kananku meraih pelan sendok yang ada di lemari piring.
"Sekalian ambil mangkok untuk sayur sop Nya , dan 3 piring ditata rapi diatas meja ya".
Segera kuambil Mangkok dan 3 piring ku tata rapi diatas Meja.
Aku mendekati lemari Es didepanku. Kubuka Handle pintunya, dan tanganku meraih Orange Juice kesukaanku . Setelah kembali menutup handle pintu lemari es, kuambil sedotan di rak sendok dan mulai memasukannya didalam Orange juice ku.
"Ma, tadi Jessica dibentak sama ketua osis yang jelek dan sama sekali nggak bermutu!"
Mama hanya memandangku Heran, dan dia mematikan kompor dan membawa panci kecil berisi ayam yang sudah kunantikan sejak tadi. Ia tuangkan perlahan masakan ˚̷ɪtu didalam piring serta dihiasi dengan 2 potongan Tomat đan wortel. Aku masih ϐεƖυ̲̣̥м menyentuh makanan ˚̷ɪ̇tu, karna aku masih menunggu jawaban dari Mama ƙΰ yang sedari tadi memandangku heran.
"Oh ya? Kamu punya salah kali?"
Ujar Mama memandangku lekat-lekat.
"Andai aja Ma, Jessica ikut kak Prety ke Singapore, Sekolah disana nggak nyediain orang kayak ketua osis itu"
***
Huh,
Sesekali ƙΰ usap keningku yang sudah terpenuhi dengan keringat akibat sengatan Matahari.
Apakah mama lupa dengan jam pulangku? Ini sudah melewati 1 jam setelah jam pulangku.
Mataku masih gelisah đan berulang kali menatap jam tanganku. Aku tak kuat lagi berada tepat dibawah teriknya siang ini. Badanku mulai melemas, kantung mata ƙΰ perlahan menutup..
***
Kulihat sekelilingku perlahan. Aku terbangun dari sebuah pingsan yang terjadi tadi siang. Saat aku menunggu sebuah kehadiran mama. Tapi, kapan aku pulang kerumah?setau ƙΰ jika tadi aku mengalami sebuah peristiwa pingsan, pasti aku sudah tergeletak lemas dipinggir jalan tadi. Apa mama sudah menjemputku saat aku pingsan?.
Ah sudahlah, aku binggung siapakah yang membawaku pulang kerumah.
Yang terpenting saat ini, aku sudah selamat sampai dirumah.
Kubuka Gorden Jendela perlahan.
Mataku terbelalak saat melihat sebuah motor vixion terparkir tepat didepan rumahku. Aku berpikir sejenak, apakah orang yang mengendarai motor itu yang telah mengantarkan ƙu pulang? Sepertinya aku pernah melihat motor itu tapi yang jelas aku tak tau siapa pemilik motor itu . Aku kembali menghempaskan tubuhku dikasur. Aku masih binggung đãπ sangat binggung,apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku? Siapa yang mengantarkan ƙΰ pulang?.
"Saya permisi dulu tante"
Terdengar jelas ditelingaku suara itu. Sepertinya laki-laki itulah yang sudi mengantarkan ƙΰ pulang. Bagaimana dia tau alamat rumah ƙΰ?...
***
"Sekarang kalian berlari keliling lapangan basket 10 kali dengan membawa pakaian unik yang terbuat dari kardus yang kemaren sudah saya suruh" ujar lantang Vino si ketua Osis yang sangat Norak itu.
Eh tunggu, apa dia bilang tadi? Pakaian kardus? Haduh, aku lupa membawanya, aku ingat betul terakhir kali aku meletakkan tugas itu di meja kamar ƙΰ.
Ƙΰ tundukan kepala dan mulai mendekati Vino. Setiap langkahku , diiringi dengan kecemasaan akan kebahagiaanku saat ini yang terlihat mulai udar.
"Kak, ma ma maaf jessica lupa bawa pakaian kardus, tapi , tapi Jessica udah buat kak" ujarku penuh kekhawatiran.
Aku masih saja tak mendongakkan kepalaku sedikit pun. Vino hanya menatapku tajam.. Dan ia pun menyuruhku untuk menatap wajahnya, perlahan ƙΰ dongak'an kepala ƙΰ, aku tersenyum penuh kekesalan yang melanda hati ƙΰ saat ini.
Tak sadar, sedari tadi kutatap wajah Vino. Dia manis juga kalau nggak marah-marah. Setelah kusadar dari lamunanku, kulihat sepasang mata nya . Masih menatap wajah ƙΰ.
"Kak"
"Oh eh iya, tadi kamu bilang, kamu lupa bawa apa?"
"Ak ak aku lupa..." Tak sempat kulanjutkan perkataanku, dia sudah menyambar ucapanku.
"Lain kali jangan sampai tertinggal ∂ΐ Meja kamar"
Loh? Bangaimana dia tau? Apa dia itu seorang peramal?atau dukun? Ah tidak mungkin.
"Vin! Cepet diurus tu yang lain, jangan ngurusin dia doang dong!" Suara yang terdengar nyaring ditelinga terucap dari mulut Tasya yang sepertinya sangat tak menyukai aku.
***
"Ma kemarin siapa yang mengantarkan aku pulang?"
"Vino"
Deg...
Deg...
Deg...
Apa maksud dari semuanya, awal jumpa dia memarahi ƙΰ, dan tiba-tiba sifatnya berbeda 180 derajat. Sepertinya tubuhnya kini tlah masuk kedalam hologram tubuh orang lain.
*****
Aku tak menyangka, kisah cintaku berawal dari kebencian yang mendalam. Sekarang, kuserahkan seluruh cιπ†α ku untuknya. Untuk laki-laki yang dulu pernah kubenci. Yang kini tlah dapat mencapai cita-citanya. Sudah 7tahun lamanya aku menjalin cιπ†α dengannya. Dan bulan depan, aku mulai akan membangun sebuah keluarga.
"Iya Vino, iya aku bakalan makan deh iya... Udah ah cepet lanjutin ƘεяĴά nya!"
Klikk
Setelah selesai menelpon Vino kembali Aku berjalan menyusuri anak tangga yang. mengantarkan ku pada ruang bawah..
Brakkk Brukkk
Tubuhku terjatuh dari tangga. Kaki ku berdarah dan tangan ku luka memar.
Pandanganku mulai gelap, semakin gelap.
* * *
Kubuka perlahan kelopak mataku, setelah ku tengok kanan kiri dikelilingi oleh peralatan medis yang sering digunakan oleh para Doktor.
Kutatap wajah Mama ku yang sedang tertidur pulas disampingku.
Dia sedikit terbangun akibat gerakan tanganku yang terganggu dengan infus.
Dddrrrttttt...
Handphone ku bergetar, segera kuambil hape ku diatas meja tepat disampingku.
{ Jessica!km knp syg?!gmn?udah ada pendonor darah ЪªªK̶̲̅ ? }
Ya Tuhan segitu khawatirkah kekasihku? Aku tersenyum melihat pesan dari Vino.
* * *
"Hmm maafkan saya, ini hasil dari ronsen kemarin. Anda terkena penyakit Hiv" jelas Dokter padaku saat aku memeriksakan tubuhku setelah terjadinya kecelakaan saat aku jatuh dari tangga dan memerlukan donor darah dari seseorang. Hatiku seakan ingin retak kembali saat mendengar kata "HIV". Kapan kah penyakit ini menyerang tubuhku?itu artinya, aku tak dapat melanjutkan rancangan acara pernikahanku. Hidupku hanya seumur jagung. Aku tak ingin melihat Vino menyesal telah menikah denganku.
* * *
"Vin, aku ingin mengakhiri semuanya" ujarku pelan.
"Tidak!sekarang ikutlah bersamaku, kita obati penyakitmu, aku tak peduli berapa lembar yang akan ku keluarkan, aku rela jatuh Miskin asal Kª♍ΰ tetap hidup dan menjadi istriku"
Aku menangis dipelukannya, kupegang erat-erat tangannya. Dia memapah tubuhku dan membawaku dimobilnya. Segera ku hapus peluh air mataku. tangan kanan nya memegang stir mobil sedangkan tangan kirinya sibuk memegang erat tanganku.
"Bersabarlah sayang aku nggak bakalan ninggalin kamu, Jessica harus janji sama aku bahwa jessica nggak bakalan ninggalin aku!".
***
Sudah cukup ini penderitaan yang sangat menyakitkan. Sudah 4 kali aku menjalani kemotherapy dan 3 kali melakukan operasi, †̥̥ά̲̣̥Ƥɪ̣̝̇ apa? Aku tetaplah seorang wanita yang mengidam penyakit menjijikan.
Hidupku sekarang. tergantung dengan peralatan medis yang menempel ditubuhku. Aku sudah tak kuat menahan rasa sakit yang aku derita selama seminggu. Namun Vino tetap menghalangi ku untuk pergi.
"Jessica harus kuat" ujarnya.
Ku gelengkan kepala perlahan, tak terasa air mataku tlah mengalir membasahi pipi ku.
"Kenapa! Jessica harus kuat, kita bertahan !harus bertahan"
Seorang Suster dan Dokter datang memasuki ruangan ini.
"Mas, sudahlah mas ikhlaskan saja dia pergi. Mbak Jessica sebenarnya merasakan kesakitan yang luar biasa. Karna hidupnya kini diambang peralatan medis" ucap suster yang sering merawatku saat dirumah sakit.
"Aa a a aku ingin pergiii"
"Maafkan aku Jessica,aku tlah membuatmu kesakitan"
"Ng ng nggak perlu minta maaf, kau adalah pacarku yang paling baik"
Kulihat wajah Vino tlah dipenuhi dengan air matanya sendiri. Aku semakin tak tega menatap wajahnya.
Nafasku mulai terpenggal-penggal saat suster mulai mencabut peralatan medis yang menempel ditubuhku. Sakit, sakit sekali. Pandanganku Gelap , sangat mencekam.. Dan akhirnya aku mulai pergi.. Aku bangun dari jiwa ku. Aku pergi hanya membawa Cιπ†α yang masih aku genggam dihati. Akan ku buktikan kepada bulan, bahwa aku bangga mempunyai kekasih seperti Vino. Dan berulang kali kukatakan kepada Tuhan........
Terima kasih Tuhan..
Kau telah mempertemukan Cιπ†α.
Dua inshan yang saling mencintai.
Dua ishan yang saling menyayangi.
Terima Kasih Tuhan..
Tlah berikan aku kebahagiaan.
Mengirimkan dia sebagai hatiku.
Hanya Maut yang memisahkan.
Memisahkan satu Garis ...
Dibelah menjadi dua
Aku disini dan dia disana...
Namun cιπ†α kita akan slalu menyatu.
Benar-benar hari ini hari yang nggak sama sekali tak aku inginkan.
Aku pertama kali memasuki bangku 'SMA' mungkin terlihat menyenangkan.
Aku pun senang masuk disekolah SMA. Tapi kenapa harus memakai acara Mos.
Acara Mos sangat tak menarik hati.
Kebayang nggak si, harus pakai kalung bawang, rambut diikat dua berpita pink. Lagi pula, aku juga nggak tergolong cewek centil dan menyukai warna pink. Aku mungkin nggak mau sama sekali terlihat Feminim.
Tetttttttttt
Bel sekolah berbunyi dengan sangat kerasnya hingga telinga ku dapat mengerti dan memahami apa artinya.
Segera kuberlari ku ayunkan kedua kaki ku secara bergiliran dengan cepat.
Huh.... Akhirnya sampai juga dikelas.
Setelah mungkin 10 menit kemudian Osis yang siap melakukan Mos datang dikelasku. Tak ada sama sekali yang menarik bagi ku. Ya, mungkin mereka tampan. Tiga orang laki-laki dan satu perempuan. Vino, Dion, Alvin dan Tasya.
"Kamu!" Hati ku tersentak dan jantungku berdegup lebih kencang lagi saat ketua osis menunjuk ku dengan pandangan suram.
"I.I...iya" jawabku.
"Jangan Melamun! Enak aja ya kamu nglamun saat pelajaran saya!"
Aku hanya mengangguk pelan tanpa suara. Hati ku terenyuh lembut.
* * *
Kulemparkan tas ku kedalam kamarku begitu saja. Mama pun hanya menatap ku penuh pertanyaan. Bukan aku namanya, jika bibirku tak ku tekuk menjadi lipatan manyun.
"Gimana tadi? Menyenangkan"
Apa? Menyenangkan, itu sama sekali tak tersentuh hati ku. Apakah benar yang disebut menyenangkan itu saat dimana orang-orang menerima penindasan yang sangat kejam. Nggak mungkinlah! Aku yakin seratuh persen kalau memang mimik wajah Mama mengetahui keadaanku sekarang,lalu mengapa mama harus melontarkan kata-kata yang Norak buat aku denger.
"Hmm,gitu deh ma.. Mama kaya nggak pernah muda aja deh" ujarku mendekati Mama yang sedang memasak.
Aku rasa , adegan norak yang tadi aku alami sudah waktunya aku pendam dan mulai melupakannya. Karna saat ini aku dan cacing-cacing diperutku mulai kampanye . Rasa Laparku terpancing saat kulihat olahan Ayam terpampang jelas didalam panci. Tangan kananku meraih pelan sendok yang ada di lemari piring.
"Sekalian ambil mangkok untuk sayur sop Nya , dan 3 piring ditata rapi diatas meja ya".
Segera kuambil Mangkok dan 3 piring ku tata rapi diatas Meja.
Aku mendekati lemari Es didepanku. Kubuka Handle pintunya, dan tanganku meraih Orange Juice kesukaanku . Setelah kembali menutup handle pintu lemari es, kuambil sedotan di rak sendok dan mulai memasukannya didalam Orange juice ku.
"Ma, tadi Jessica dibentak sama ketua osis yang jelek dan sama sekali nggak bermutu!"
Mama hanya memandangku Heran, dan dia mematikan kompor dan membawa panci kecil berisi ayam yang sudah kunantikan sejak tadi. Ia tuangkan perlahan masakan ˚̷ɪtu didalam piring serta dihiasi dengan 2 potongan Tomat đan wortel. Aku masih ϐεƖυ̲̣̥м menyentuh makanan ˚̷ɪ̇tu, karna aku masih menunggu jawaban dari Mama ƙΰ yang sedari tadi memandangku heran.
"Oh ya? Kamu punya salah kali?"
Ujar Mama memandangku lekat-lekat.
"Andai aja Ma, Jessica ikut kak Prety ke Singapore, Sekolah disana nggak nyediain orang kayak ketua osis itu"
***
Huh,
Sesekali ƙΰ usap keningku yang sudah terpenuhi dengan keringat akibat sengatan Matahari.
Apakah mama lupa dengan jam pulangku? Ini sudah melewati 1 jam setelah jam pulangku.
Mataku masih gelisah đan berulang kali menatap jam tanganku. Aku tak kuat lagi berada tepat dibawah teriknya siang ini. Badanku mulai melemas, kantung mata ƙΰ perlahan menutup..
***
Kulihat sekelilingku perlahan. Aku terbangun dari sebuah pingsan yang terjadi tadi siang. Saat aku menunggu sebuah kehadiran mama. Tapi, kapan aku pulang kerumah?setau ƙΰ jika tadi aku mengalami sebuah peristiwa pingsan, pasti aku sudah tergeletak lemas dipinggir jalan tadi. Apa mama sudah menjemputku saat aku pingsan?.
Ah sudahlah, aku binggung siapakah yang membawaku pulang kerumah.
Yang terpenting saat ini, aku sudah selamat sampai dirumah.
Kubuka Gorden Jendela perlahan.
Mataku terbelalak saat melihat sebuah motor vixion terparkir tepat didepan rumahku. Aku berpikir sejenak, apakah orang yang mengendarai motor itu yang telah mengantarkan ƙu pulang? Sepertinya aku pernah melihat motor itu tapi yang jelas aku tak tau siapa pemilik motor itu . Aku kembali menghempaskan tubuhku dikasur. Aku masih binggung đãπ sangat binggung,apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku? Siapa yang mengantarkan ƙΰ pulang?.
"Saya permisi dulu tante"
Terdengar jelas ditelingaku suara itu. Sepertinya laki-laki itulah yang sudi mengantarkan ƙΰ pulang. Bagaimana dia tau alamat rumah ƙΰ?...
***
"Sekarang kalian berlari keliling lapangan basket 10 kali dengan membawa pakaian unik yang terbuat dari kardus yang kemaren sudah saya suruh" ujar lantang Vino si ketua Osis yang sangat Norak itu.
Eh tunggu, apa dia bilang tadi? Pakaian kardus? Haduh, aku lupa membawanya, aku ingat betul terakhir kali aku meletakkan tugas itu di meja kamar ƙΰ.
Ƙΰ tundukan kepala dan mulai mendekati Vino. Setiap langkahku , diiringi dengan kecemasaan akan kebahagiaanku saat ini yang terlihat mulai udar.
"Kak, ma ma maaf jessica lupa bawa pakaian kardus, tapi , tapi Jessica udah buat kak" ujarku penuh kekhawatiran.
Aku masih saja tak mendongakkan kepalaku sedikit pun. Vino hanya menatapku tajam.. Dan ia pun menyuruhku untuk menatap wajahnya, perlahan ƙΰ dongak'an kepala ƙΰ, aku tersenyum penuh kekesalan yang melanda hati ƙΰ saat ini.
Tak sadar, sedari tadi kutatap wajah Vino. Dia manis juga kalau nggak marah-marah. Setelah kusadar dari lamunanku, kulihat sepasang mata nya . Masih menatap wajah ƙΰ.
"Kak"
"Oh eh iya, tadi kamu bilang, kamu lupa bawa apa?"
"Ak ak aku lupa..." Tak sempat kulanjutkan perkataanku, dia sudah menyambar ucapanku.
"Lain kali jangan sampai tertinggal ∂ΐ Meja kamar"
Loh? Bangaimana dia tau? Apa dia itu seorang peramal?atau dukun? Ah tidak mungkin.
"Vin! Cepet diurus tu yang lain, jangan ngurusin dia doang dong!" Suara yang terdengar nyaring ditelinga terucap dari mulut Tasya yang sepertinya sangat tak menyukai aku.
***
"Ma kemarin siapa yang mengantarkan aku pulang?"
"Vino"
Deg...
Deg...
Deg...
Apa maksud dari semuanya, awal jumpa dia memarahi ƙΰ, dan tiba-tiba sifatnya berbeda 180 derajat. Sepertinya tubuhnya kini tlah masuk kedalam hologram tubuh orang lain.
*****
Aku tak menyangka, kisah cintaku berawal dari kebencian yang mendalam. Sekarang, kuserahkan seluruh cιπ†α ku untuknya. Untuk laki-laki yang dulu pernah kubenci. Yang kini tlah dapat mencapai cita-citanya. Sudah 7tahun lamanya aku menjalin cιπ†α dengannya. Dan bulan depan, aku mulai akan membangun sebuah keluarga.
"Iya Vino, iya aku bakalan makan deh iya... Udah ah cepet lanjutin ƘεяĴά nya!"
Klikk
Setelah selesai menelpon Vino kembali Aku berjalan menyusuri anak tangga yang. mengantarkan ku pada ruang bawah..
Brakkk Brukkk
Tubuhku terjatuh dari tangga. Kaki ku berdarah dan tangan ku luka memar.
Pandanganku mulai gelap, semakin gelap.
* * *
Kubuka perlahan kelopak mataku, setelah ku tengok kanan kiri dikelilingi oleh peralatan medis yang sering digunakan oleh para Doktor.
Kutatap wajah Mama ku yang sedang tertidur pulas disampingku.
Dia sedikit terbangun akibat gerakan tanganku yang terganggu dengan infus.
Dddrrrttttt...
Handphone ku bergetar, segera kuambil hape ku diatas meja tepat disampingku.
{ Jessica!km knp syg?!gmn?udah ada pendonor darah ЪªªK̶̲̅ ? }
Ya Tuhan segitu khawatirkah kekasihku? Aku tersenyum melihat pesan dari Vino.
* * *
"Hmm maafkan saya, ini hasil dari ronsen kemarin. Anda terkena penyakit Hiv" jelas Dokter padaku saat aku memeriksakan tubuhku setelah terjadinya kecelakaan saat aku jatuh dari tangga dan memerlukan donor darah dari seseorang. Hatiku seakan ingin retak kembali saat mendengar kata "HIV". Kapan kah penyakit ini menyerang tubuhku?itu artinya, aku tak dapat melanjutkan rancangan acara pernikahanku. Hidupku hanya seumur jagung. Aku tak ingin melihat Vino menyesal telah menikah denganku.
* * *
"Vin, aku ingin mengakhiri semuanya" ujarku pelan.
"Tidak!sekarang ikutlah bersamaku, kita obati penyakitmu, aku tak peduli berapa lembar yang akan ku keluarkan, aku rela jatuh Miskin asal Kª♍ΰ tetap hidup dan menjadi istriku"
Aku menangis dipelukannya, kupegang erat-erat tangannya. Dia memapah tubuhku dan membawaku dimobilnya. Segera ku hapus peluh air mataku. tangan kanan nya memegang stir mobil sedangkan tangan kirinya sibuk memegang erat tanganku.
"Bersabarlah sayang aku nggak bakalan ninggalin kamu, Jessica harus janji sama aku bahwa jessica nggak bakalan ninggalin aku!".
***
Sudah cukup ini penderitaan yang sangat menyakitkan. Sudah 4 kali aku menjalani kemotherapy dan 3 kali melakukan operasi, †̥̥ά̲̣̥Ƥɪ̣̝̇ apa? Aku tetaplah seorang wanita yang mengidam penyakit menjijikan.
Hidupku sekarang. tergantung dengan peralatan medis yang menempel ditubuhku. Aku sudah tak kuat menahan rasa sakit yang aku derita selama seminggu. Namun Vino tetap menghalangi ku untuk pergi.
"Jessica harus kuat" ujarnya.
Ku gelengkan kepala perlahan, tak terasa air mataku tlah mengalir membasahi pipi ku.
"Kenapa! Jessica harus kuat, kita bertahan !harus bertahan"
Seorang Suster dan Dokter datang memasuki ruangan ini.
"Mas, sudahlah mas ikhlaskan saja dia pergi. Mbak Jessica sebenarnya merasakan kesakitan yang luar biasa. Karna hidupnya kini diambang peralatan medis" ucap suster yang sering merawatku saat dirumah sakit.
"Aa a a aku ingin pergiii"
"Maafkan aku Jessica,aku tlah membuatmu kesakitan"
"Ng ng nggak perlu minta maaf, kau adalah pacarku yang paling baik"
Kulihat wajah Vino tlah dipenuhi dengan air matanya sendiri. Aku semakin tak tega menatap wajahnya.
Nafasku mulai terpenggal-penggal saat suster mulai mencabut peralatan medis yang menempel ditubuhku. Sakit, sakit sekali. Pandanganku Gelap , sangat mencekam.. Dan akhirnya aku mulai pergi.. Aku bangun dari jiwa ku. Aku pergi hanya membawa Cιπ†α yang masih aku genggam dihati. Akan ku buktikan kepada bulan, bahwa aku bangga mempunyai kekasih seperti Vino. Dan berulang kali kukatakan kepada Tuhan........
Terima kasih Tuhan..
Kau telah mempertemukan Cιπ†α.
Dua inshan yang saling mencintai.
Dua ishan yang saling menyayangi.
Terima Kasih Tuhan..
Tlah berikan aku kebahagiaan.
Mengirimkan dia sebagai hatiku.
Hanya Maut yang memisahkan.
Memisahkan satu Garis ...
Dibelah menjadi dua
Aku disini dan dia disana...
Namun cιπ†α kita akan slalu menyatu.
by: Octaviana
Langganan:
Postingan (Atom)