Wanita separuh baya asik mengeruk sampah dan dimasukkan didalam tas
Plastik hitam besar miliknya. Dengan penuh pengorbanan melawan panasnya
matahari hari ini dan pulang saat Senja tiba. Keringatnya membasahi
keningnya. Sesekali ia mengusap keningnya untuk menghapus keringatnya.
Baju yang tak lagi bersih ia gunakan. Celana pendek yang dipenuhi
dengan kotoran akibat terkena sampah masih juga ia gunakan untuk
mendapatkan uang.
Ia wanita, sebagai Ibu yang mengurus rumah tangga dan juga sebagai
kepala keluarga. Suaminya tlah lama meninggal akibat jatuh dari bangunan
tinggi. Hanya sebuah becak, yang ia punya sebagai alat transportasi.
Saat matahari masih belum muncul sempurna, wanita itu sudah semangat
mendapatkan rupiah untuk menyekolahkan Appril. Wanita itu bangun
sebelum ayam berkokok dan adzan berkumandang. Segera ia keluarkan
becaknya dan segera membersihkannya, setelah itu ia memasak walau hanya
menggoreng tempe dengan kerupuk.
***
"Buk, kata bu Guru, jika Appril nggak bayar uang SPP Appril nggak
boleh ikut pelajaran. Terus tadi waktu sekolah, Sepatu Appril sudaj
rusak, sobek dan terasa sakit jika dipakai. Apa ibu punya uang?jika
tidak, bolehkan Appril kerja kayak ibu?ayolah, Appril nggak mau nyusahin
ibu".
Ibunya berhenti melipat sajadah setelah ia melakukan sholat di Masjid.
Appril yang terlihat sangat sedih, hanya menatap sepasang mata Ibunya yang mulai membendung air mata.
"Appril dirumah aja ya, biar ibu yang cari uangnya. Maafkan ibu nak, ibu nggak bikin kamu bahagia".
Appril termenung mendengar ucapan yang terlontarkan dari mulut ibunya.
Keinginannya ingin sekolah tanpa setiap hari di panggil oleh Guru
untuk menagih uang Spp. Lebih lagi, kakinya yang sudah lecet akibat
sepatunya yang rusak membuat keinginannya untuk membeli sepatu bagus
yang terjual ditoko. Bukan mengambil di rongsokan.
kesedihan menyelimuti hati mereka. Keluarga kecil yang dipenuhi
dengan cobaan. Cobaan yang mampu membuat mereka tak sanggup lagi
bertahan hidup. Tapi ada sebuah Cιπ†α dan kasih sayang mereka yang mampu
membendung putus asa.
***
"Maaf Appril, kamu nggak bisa ngikutin pelajaran karna kamu belum membayar uang Spp. Dan juga kamu belum beli sebuah LKS".
Deg..
Deg..
Deg...
Hatinya Merintih kesakitan. Matanya tak sanggup lagi untuk
membendung air mata. Kakinya yang masih sakit berusaha untuk berlari
akibat keputus asa'an.
Ia berlari sekuat tenaga. Dan merenungi semua nasibnya. ia berhenti
tepat ditaman sekolahnya. Appril hanya diam terpaku diiringi dengan
tetesan air mata.
Teeettttttt.....
Bel sekolah sudah berbunyi, semua siswa keluar dari kelas untuk istirahat dan mengisi perutnya.
"Hmmm, liat ni aku punya Es krim dan siomay. Hahaha nggak kayak
dia, dia pasti kelaparan dan menangis tak punya uang". Semua hinaan yang
terdengar lantang dari telinga Appril membuat hatinya semakin kecil.
Мέмαиб benar, ia merasakan lapar dan haus. Ia tahan semua rasa
laparnya. Bibirnya sesekali mengecap karna ingin merasakan makanan yang
teman-temannya rasakan.
***
Ibu Appril sekuat tenaga mengumpulkan uang untuk membelikan Appril sepatu baru agar kakinya tak lagi merasakan kesakitan.
Ia menguras seluruh tenaga. Setelah menjadi seorang tukang becak, ia
berjalan menuju pasar untuk menjadi orang bantu disana. Setelah langit
berubah menjadi warna Jingga, Senja pun datang.
Ibu Appril memarkirkan becaknya didepan gubuknya. Ia kembali
membanting tulang sebagai seorang pemulung. Ia kumpulkan barang-barang
bekas yang dapat ia jual. Sampai malam harinya pun ia tetap sekuat
tenaga menggendong sampah-sampah yang dapat dijual kembali.
***
Seulas senyum kini dilakukannya. Bahagia, sangat bahagia melihat hasil kerja yang ia lakukan demi anaknya.
Ia menghitung jumlah uang yang ia dapat tadi. Sepertinya, uang
˚̷ɪ̷̜̇ťΰ lebih dari cukup untuk membeli sepatu dan membayar uang Spp.
Ia kantongi lagi uang itu dan berjalan menuju rumah kepala sekolah
Appril untuk membayar uang SPP. Setelah selesai membayar uang Spp, ia
berjalan menyusuri ramainya jalan raya.
Matanya sangat membuat hatinya bahagia saat melihat sebuah toko
sepatu berdiri tepat didepannya. Ia segera memasuki toko tersebut dan
membelikan sebuah sepatu.
****
Appril menunggu cemas tepat didepan gubuknya. Dimanakah seorang
ibunya? Becak sudah terparkir tepat didepan gubuknya. namun ibunya tak
ada. 10menit kemudian ia tunggu sampai ia meneteskan air matanya.
Namun, kesedihan itu terpecahkan saat matanya menangkap sebuah wajah
ibunya sudah berdiri diseberang jalan dengan kwitansi dan sebuah sepatu
baru untuknya.
Ibunya tersenyum bahagia melihat Appril sudah menungunya didepan
gubuknya. Gubuknya terletak diseberang jalan , tanpa berpikir panjan ia
menyebrang untuk menghampiri anaknya. Namun..
Brakkkk.....
Duarrrrrr......
Nasib malang menimpanya. Sebuah truk besar berhasil menabrak tubuh wanita separuh baya itu.
"Ibuuuuuu". Segera Appril menghampiri ibunya diseberang jalan dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
Appril memeluk tubuh ibunya yang dipenuhi dengan darah.
"Ini sepatu untukmu,dan besuk Appril harus sekolah ibu sudah
membayar Spp nya, maafkan ibu tak bisa merawatmu sampai kau besar. Allah
sudah memanggil ibumu ini nak. Teruskanlah pendidikanmu, jangan sampai
kamu putus sekolah. Terus semangat dan jangan sampai menyerah". Ibu
Appril menyodorkan sepatu yang tadi ia belikan untuk anaknya. Tangannya
berdarah, sampai banyak bercak darah disepatu itu.
Appril terus saja memeluk ibunya dengan jeritan hati mencekam.
Ia semakin sedih saat mengetahui ini adalah hembusan nafas terakhir ibunya.
Ibunya yang bertekad seperti sosok ibu kartini.
Bertekad untuk menyekolahkan Appril.
Bertekad untuk membelikan sepatu baru untuk Appril.
Bertekad menahan rasa lapar sewaktu kerja.
Bertekad menghidupi Appril dengan tubuhnya yang mulai renta.
Bertekad untuk memberikan kebahagiaan untuk Appril.
Semua yang diberikannya bagaikan seindah bunga mekar dan secantik bidadari.
Appril bangga mempunyai ibu seperti Ibu Kartini.
Ibu yang selalu menjujung tinggi nama pendidikan, ibu yang selalu mendorong anaknya untuk belajar.
Ibu yang mengorbankan tenaganya untuk menyekolahkan anaknya.
Dialah ibu yang Appril banggakan.
Dialah ibu yang Appril Cιπ†α.
Dialah Ibu yang Appril sayang.
Dialah ibu yang slalu ia kenang.
Dia Ibu...
Ibu...
Dan Ibu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar