Aku terlelap dalam mimpi indah ku yang mampu membawa ku dalam
ketenangan. Entah sampai kapan laki-laki separuh baya ini masih menemani
disampingku. Setelah aku sadar kehadiran laki-laki ini membuatku terasa
dalam kehidupan damai dengan melawati jalan tanpa sebuah cacat sedikit
pun. Kehadiran laki-laki ini mampu membuatku tersenyum lepas.
Dia bagaikan matahari yang slalu membantu bulan untuk menyinari bumi
walau memang pada malam hari ia tak kunjung datang. Namun Bulan, dia
terlihat sendiri tapi, tak dapat berdiri sendiri.
Itulah kehidupanku, aku diciptakan dengan kedua kaki ku untuk berjalan
melangkah secara bergiliran. Hati ku terlelap sendiri, tapi tak dapat
berdiri sendiri. laki-laki itulah yang telah berani mengambil hati ku.
Sekarang, dimana tanggung jawab nya. Dimana ia sekarang, aku sudah muak
menerima ini. Hanya sebatang Coklat itulah yang kau beri kepada ku
sebagai tanda tanggung jawab.
* * *
"Bulan, aku ingin kita ke puncak Besuk".
Aku heran dengan ucapan teman dekatku. Jarang bahkan mungkin sama sekali
tak pernah ia mengatakan ingin ke puncak . Mata ku tlah berhasil
dibuatnya terbelalak.
"Ha?untuk apa Binar? Tidak, aku nggak akan ngizinin kamu pergi. Kamu
punya kaca kan? Lihat keadaanmu sekarang!". Jujur saja, aku sangat
khawatir dengan keadaannya. Bibirnya pucat, semangat nya kini hilang
diterpa angin dan terbawa oleh gelombang air laut. Mata nya tak lagi
cerah, bak air sungai tercemari Sampah-sampah jahat menyerang.
"Hmm, sebelum hari Valentine"
"Valentine?" Desisku panjang.
* * *
Hari ini mata ku terasa segar kembali melihat pohon-pohon mengayun bergoyang pelan. Daun-daun menari disorong angin sepoi-sepoi.
Berulang kali aku tersenyum melihat semua yang telah ditangkap oleh Mataku sendiri.
Tak sadar aku kembali merasakan kenyamanan. Tangan ku digenggam erat
oleh Binar. Diciumnya beberapa kali tanpa rasa bosan menyelinap hati
nya. Dia hatnya menatap kedua mata ku dengan sangat lekat. Disetiap
sudut mataku, ia lakukan hal yang sama.
Menerobos masuk kedalam bagian dalam pupil mataku.
"Happy valentine"ujarnya sesekali mencium tanganku yang sudah berhasil berkeringat karna ulahnya.
"Hmm, kenapa kamu lakukan ini semua"
Suasana hening, tak terdengar alunan suara darinya. Ia hanya menyodorkan
Coklat berbentuk hati di lindungi oleh kardus indah berwarna pink
dengan putih sebagai atapnya. Jadi, dengan mudah mengintip isi kardus
itu dengan mudah. Binar mengambilnya dari saku celana Jins nya. Ia
tersenyum padaku.
"bawa coklat ini pulang, oh ya dibuka nanti malam. Just for you"
Ku gelengkan kepala ku pelan. Ini semua seperti mimpi seorang Putri
mendapatkan sebuah coklat dan untuk membuka nya saja punya aturan.
* * *
Kubuka perlahan isi kardus Valentine yang Binar berikan tadi. Aku
semakin. Tak mengerti dengan semua ini. Terselip sebuah kertas berisi
goresan tangan Binar bertinta merah.
Jantungku semakin berdetak tak karuan. Kubaca dengan sangat teliti surat dari Binar.
(Bulan, maafkan aku. Aku sengaja meninggalkanmu. Aku tak ingin dekat
denganmu dalam keadaanku seperti ini. Aku harus menjalankan Operasi di
Jepang. I love you.. Aku akan kembali saat keadaanku memang benar-benar
sehat. Entah itu 10 tahun lagi. Aku harap kamu juga mencintaiku..
Terimalah coklat hati dari ku I love you)
"Binar!" Teriakku diiringi dengan. kesedihan hati, jiwa dan mata. Aku
tak dapat membendung air yang telah bergenang di mataku. Suara ku kini
tlah mampu memenuhi ruangan, hingga orang-orang yang tak tau apa yang
aku rasakan , mengira aku sudah gila. Kudekap coklat hati darinya. Tak
ada bagian coklat yang aku cuil sedikit pun.
Hingga akhirnya, aku datang setiap harinya ke tempat pertama coklat ini
jatuh ditanganku. Hanya suara ayunan lemah angin menghantam pelan
dedaunan dan kicauan burung bernyanyi.
Aku sedikit kecewa dengannya. Binar? Dimana kamu sekarang.. Aku terduduk
lemas tanpa energi yang tersisa. Aku duduk lagi-lagi ditempat pertama
coklat itu jatuh ditanganku.
"Binar!!! Dimana kamu! Ini sudah hari Valentine tahun ke 14. Tapi dimana
letak bantang hidungmu! Kau jahat!" Aku teriak sekeras mungkin berharap
seseorang yang ku harapkan mendengarnya.
Sebuah lemparan coklat dengan kertas diatasnya entah dilempar dari mana
asalnya, itu cukup membuat hati ku agak terdorong lega dan sedikit demi
sedikit dapat merasakan nafas yang setiap kali kuhirup.
Kubuka perlahan isi surat itu..
Dan..
( aku sudah menyuruh seseorang untuk mengirimkan 14 coklat ku untuk mu
dirumahmu. Aku rasa, aku tak dapat melanjutkan mengirimkan coklat untuk
valentine selanjutnya. Aku terbaring lemas diatas ranjang kasur rumahku
di Indonesia telah lama kurang lebih 3bulan. Aku ingin kau berikan aku
cukup 1 coklat hati untuk yang terakhir kalinya, aku ingin disaat bulan
kehilangan cahaya Binarnya. Datanglah dirumahku, aku akan mengabadikan
semuanya sampai tutup usia ku)
* * *
Aku terbaring diatas rerumputan hijau menggelar diatas bumi. Melawan panasnya matahari, dan memandang luasnya langit biru.
Binar tak berubah bagi ku. Dia tetap berhasil membuat tanganku berkeringat. Diterbaring lemah disampingku.
Ku ambil coklat hati dari tas pinggang pink ku yang sudah kusediakan tadi.
Ku angkat tinggi-tinggi coklat hati. Kupotong menjadi 2 bagian. Dan bagian 1 ku berikan kepada binar.
"Ini. Just for you. Kamu tau betapa sakitnya coklat dibagianku karna
sudah ku pisahkan dengan coklat pasangannya. Jadi, inilah keadaanku saat
kau pergi separuh hati ku mengikuti dimana setiap kau pergi. Aku mohon,
kamu kuat melawan penyakitmu. " Ujarku memeluknya. Badanya semakin
dingin tak melakukan gerakan sedikit pun. Coklat hati yang ia pegang
tiba-tiba lepas sendirinya. Nafasku mulai terpenggal-penggal.
Kugoyangkan tubuhnya. Tak ada reaksi.
Kugenggam erat tangannya. Ku letakkan separuh coklat hati didadanya.
Tubuhku masih terhempaskan pada rumput hijau bersama laki-laki yang aku
cintai. Kuletakkan separuh coklat hati milikku tepat di hatiku. Aku
tersenyum. Aku memandang putihnya awan, birunya langit dan cerahnya
matahari, namun pandanganku sedikit demi sedikit gelap. Nafasku sedikit
demi sedikit menghilang. Genggamanku mulai terlepas. Kini kurasakan,
terbang.
Terbang jauh tinggi bersama Binar menggunakan burung sebagai
transportasinya. Kugenggam separuh coklat hati. Binar pun tak mau kalah.
Aku bercanda, tertawa , bahagia dan tersenyum diatas langit biru
bersamanya..
Bersama Binar dan sepotong Coklat Hati....
Baru ku tau arti sebuah Valentine. Hampir 14 tahun lamanya hati ku menghilang entah kemana, 14 tahun memendam rasa kasih sayang.
14 tahun aku dibuat jera olehnya.
Hingga Valentine yang terakhir kali aku rasakan , inilah hari kasih
sayang yang tergambar jelas pada terakhir sampai ku tutup usia dengan
Binar.
Tangan ku digenggam erat olehnya. Kupeluk tubuhnya. Kita berdua
tersenyum memandang orang-orang dihari Valentine dan Coklat hati.
Aku rasa aku sangat bahagia hidup tidur nyenyak di awan putih bersama Binar.
Dan aku menemui Bulan seperti halnya nama ku.
Aku tak memikirkan apakah tubuhku dengan tubuh binar sudah dikuburkan.
Karna yang aku tahu, sepotong coklat hati menempel pada dadaku dan
dadanya.
Inilah kisah Cinta ku pada Valentine.
Terbang bersama Binar dan.... Sepotong Coklat hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar