Kamis, 04 Agustus 2016

Jiwa yang hilang





Aku tak menyangka, cinta itu masih ada dalam hatiku. Ingin sekali aku melupakan, semuanya, sampai tak tersisa lagi serpihan kisahku dengannya di masa lalu. Tapi, kisah itu hanya akan hilang sementara, dan tetap membekas sakitnya di hatiku yang kian rapuh dan mati. Aku tak bisa merasakan rasa itu kembali, hatiku telah mati, mati karena terlampau tersakiti. Aku ingin hidup menyendiri. Cinta hanya akan membuat hidupku sengsara dan nelangsa. Kemanakah aku harus mengobati rasa sakit hatiku ini?
Akankah aku mau menerima obat itu jikalau obat itu juga bisa membuatku sakit hati. Cinta yang telah membuatku sakit dan cinta pulalah yang bisa mengobati rasa sakit itu. Entahlah, aku sepertinya tak ingin mengenal apa itu cinta. Dia telah membuatku terluka. Orang yang sangat aku kasihi, sahabat, semua penuh dengan cinta tapi menyakitkan. Hidup, cinta, sakit dan mati.
Aku bagaikan orang yang mati. Aku tak bisa merasakan apapun. Pikiranku kosong entah ke mana. Siapa yang telah memasungku dan mengurungku di Istana nan megah ini? Istana cinta telah mengurung jiwa dan hatiku. Cinta yang datang akan pergi setelah meyakitiku. Hidupku sudah hancur lebur menjadi debu. Sakit ini akan aku bawa sampai mati. Dimanakah mereka yang dulu menyayangiku? Mengatasnamakan cinta. Di mana?
Betapa senangnya hatiku, saat aku merasakan indahnya rasa cinta. Rasa yang membuat hatiku berbunga-bunga dan terbang membumbung tinggi di angkasa. Sungguh, tak pernah aku merasakan rasa yang membuat hatiku bergetar nan hebat. Rindu, gugup dan senang yang tidak keruan. Terkadang aku tertawa bahagia, terkadang aku menangis tersedu-sedu. Terkadang aku bersemangat, dan terkadang aku lemah dan tak berdaya. Tak ada kekuatan dalam tubuh ini. Hanya diam membisu, memikirkan sesuatu dan pikiranku tak bekerja untuk hal lain.
Pertemuanku dengan Rehan, membuatku jatuh cinta padanya. Cinta yang berujung dengan rasa sakit yang teramat dalam. Tatkala dua hati menyakitiku dari sudut yang berbeda. “Ternyata, kamu suka dengan Rehan. Kenapa kamu tidak bilang?” Tanya Hesty.
“Aku malu, Hes. Lagian, dia orangnya cuek..” Kataku.
“Justru kamu yang cuek. Kemarin, waktu dia meneleponmu, malah kamu matiin. Kenapa?” Tanya Hesty. Aku hanya diam saja.
Aku tak menyangka, jika aku bisa bertemu dengan Rehan. Pertemuan yang sengaja direncanakan oleh Rehan dan juga Hesty. Mereka memang sudah saling kenal. Aku tahu Rehan saat ia sedang mengembalikan buku di perpustakaan. Tapi sayang, aku tak berani menatapnya, perasan itu, senang dan takut. Entahlah, aku tak bisa mengatakan bagaimana semrawutnya perasaanku kala itu. Dan aku pun senang dengan pertemuan itu. Pertemuan yang sangat mengejutkanku. Saat bertemu dan duduk berdua, aku tak berani untuk menatap orang yang aku cintai itu. Ingin sekali aku menatapnya, tapi wajah ini enggan mendongak dan berpaling menatapnya.
Ia hanya diam dan sesekali mengajakku berbicara. Dari situlah hubunganku dengan Rehan mulai terjalin. Tapi, aku tak merasakan ada yang istimewa dalam hubungan ini. Tak ada kejalasan pasti antara aku dengannya. Dia tak menunjukkan reaksi apa pun. Bagiku, Rehan adalah manusia bunglon yang bisa berubah warna. Terkadang ia bersifat manis dan perhatian terhadapku. Ia menunjukkan cinta dan perhatiannya. Tetapi, terkadang ia cuek dan memebiarkanku begitu saja. Aku dibuat bingung akan permainannya. Tak sadarkah dia, aku telah menyimpan rasa cinta yang dalam untuknya. Kenapa dia mempermainkan perasaanku yang tulus ini.
“Sudahlah, kamu tunggu saja. Dia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakannya..” Kata Hesty.
“Dia sangat membingungkan. Aku sudah memberinya perhatian dan menunjukkan bahwa aku sangat menyukainya. Tetapi, dia terkadang membuatku terbang dan terkadang membuatku terjatuh. Tapi, aku sangat mencintainya. Aku mencintainya, Hes..” Kataku.
“Iya, aku tahu, dia adalah orang pertama dalam hidupmu..” Kata Hesty.
Aku sepertinya tak bisa hidup tanpanya. Tapi, hubungan itu tak membuahkan hasil apa-apa. Dia tak juga menyatakan cintanya. Hingga aku bingung dan marah akan sikapnya terhadapku. Sikapnya yang selalu mempermainkan perasaanku. Ketika aku mulai bosan dengan sikapnya, dia selalu mendekatiku dan berbuat baik padaku. Dia sms, telepon dan mengajak pergi jalan-jalan. Tapi, dia hanya memanfaatkan aku untuk menghibur kekosongan hatinya. Aku begitu mudah dipermainkan olehnya.
Aku pun pergi dan tak ingin bertemu dengannya. Aku terlampau sakit hati dengannya. Ungkapan cintaku padanya hanya dibalas dengan cemoohan.
“Kamu jangan pede amat jadi cewek.” Katanya padaku. Hancur, hancur hatiku. Ku korbankan semua, hidupku dan juga prestasiku. Semua raib entah ke mana. Hilang bersama cinta itu. Tak ada semangat dan gairah untuk hidup kembali. Pengalaman mengecap manisnya cinta pertama hilang dan meninggalkan luka dalam. Sungguh pengalaman yang menyakitkan.
Kegalauan hatiku mengantarkanku merangkai sebuah kata-kata, sebagai luapan amarah dan gejolak cinta yang ada dalam hatiku. Sebuah buku yang menjadi saksi akan hancurnya perasaanku. Sebuah buku yang menjadi diriku terkenal. Bahkan, Rehan mungkin tahu apa sebenarnya yang aku tulis dan siapa yang sebenarnya aku hujat sebagai laki-laki yang jahat dalam novel yang banyak digandrungi orang-orang itu. Buku tulis yang sudah usang, lecek dan luntur tulisannya. Karena saat menulisnya, air mataku tak kuasa aku tahan. Hingga ia mengucur deras dari persembunyiannya.
Lewat buku itulah sebuah novel terlaris karya Hanifa lahir dan membuatnya terkenal. Siapa sangka, sebuah novel yang penuh dengan kebencian, dendam dan amarah yang meluap-luap itu banyak digandrungi semua orang. Hanya aku, Rehan dan Hesti yang tahu di balik novel itu. “Cinta dan Pengkhianatan.” sebuah novel yang mengisahkan sakit yang pernah ditorehkan Rehan. Dah Hesty sahabatku, yang telah mengkhianatiku dan bermain cinta dengan Rehan di belakangku.
Akulah Hanifa, sang penulis terkenal yang penuh dengan misteri dalam hidupnya. Novel-novelnya sangat misterius dan meledak di pasaran. Seorang penulis yang dikenal ramah, baik dan sopan, tapi penuh dendam kepada orang yang telah menyakitinya. Ia hanya bisa menuangkanyan lewat tulisan. Sulit untuk menyelami maksud di balik novel-novelnya. Cinta dan Sakit itulah yang telah membuat ia menjadi terkenal dan kaya.
“Mbak Hanifa, minta tanda tangannya, dong.” Kata penggemarku yang mengerumuniku.
“Ia sebentar, ya.” Kataku saat mereka berdesakkan ingin meminta tanda tangan dan bahkan sekedar berjabat tangan denganku.
“Sabar, ya!” Kataku membuat mereka tenang.
“Mbak, ceritakan kisah anda hingga bisa membuat novel sebagus ini, Mbak!” Kata mereka. Aku hanya tersenyum.
Andaikan mereka tahu, sebuah novel yang penuh dengan rasa sakit. Jika aku mau, aku ingin cerita dalam novel itu bukanlah pengalaman pahit dan sakit yang aku rasakan dalam hidupku. Jika aku bisa memilih, aku akan menuliskan pengalaman pahit dan sakit yang dialami oleh orang lain. Jadi, aku tak merasakan sakit itu. Mungkin, ini hidup yang harus aku jalani. Skenario yang harus aku jalani sekaligus. Dalam novel dan dalam Dunia nyata. Siapa sangka, jika apa yang tertuang dalam novel itu adalah kisah perih dalam hidupku sendiri. Mereka hanya tahu, aku hidup menjadi orang terkenal dengan novel itu, kaya dan penuh dengan prestasi. Tapi, mereka tidak pernah tahu, hidupku rapuh dan hancur. Jiwaku telah mati untuk bisa merasakn apa itu cinta. Rasa sakit yang diberikan oleh Rehan dan pengkhianatan Hesty membuatku hancur.
Tuntutan untuk tetap menulis membuatku stres dan bingung. Jiwa dan batinku masih merasakan sakit. Seorang penulis terkenal yang selalu hidup menyendiri. Banyak orang bertanya kenapa aku belum menikah. Dan memilih tinggal jauh dari keramaian kota. Hidup disibukkan dengan menulis dan menulis. Kisah yang ditulisnya tak pernah berujung bahagia. Ciri khas Hanifa, memang sangat fenomenal. Ingin rasanya aku mati saja. Meninggalkan kisah dalam novel-novel itu. Mereka tak pernah tahu di balik novel itu. Akulah tokoh utamanya. Mereka hanya penikmat rasa sakit dan pahitnya kisah hidupku. Mereka tidak pernah tahu akan posisiku sebagai penulis sekaligus pemeran utama cerita itu. Jiwaku benar-benar telah mati. Aku ingin secepatnya pergi. Pergi dan pergi.
“Novel ini akan menjadi karya terakhir Hanifa. Tak akan ada cerita-cerita menyakitkan yang aku torehkan. Aku tak berarti apa-apa hidup di dunia ini. Cinta telah membuat jiwaku mati hingga aku tak bisa merasakan cinta itu lagi. Cerita kematian sang novelis handallah yang akan menjadi cerita baru, dan entah siapa yang akan menulisnya..” Kataku terakhir. Sebilah pisau yang tergeletak di samping buah apel, aku genggam dan aku goreskan pada lengan kiriku. Seketika, pergelangan tanganku dilingkari gelang berwarna merah dan kental, mengalir deras.
Sekarang, tak ada lagi sang novelis cinta Hanifa. Dia telah tiada dan menyisakan duka mendalam di hati penggemarnya. Kisahnya yang sangat menyentuh hati, dan kematiannya yang misterius. Tak ada yang menyangka, jika hidupnya hancur karena cinta dan pengkhianatan sahabatnya sendiri. Selama ini, ia hanya hidup menyendiri menuliskan kisah sedih dan perihnya hidup yang ia alami. Semua tidak menyangka sang novelis terkenal itu telah tiada dan menyimpan banyak rahasia dalam novel dan kehidupan yang nyata. Karyanya telah putus sudah.
Dan kini, kisah hidupnya menjadi cerita baru dengan hadirnya penuis-penulis baru. Kisah kematiannya yang misterius itulah yang menjadi cerita baru. Mungkin sekarang Hanifa telah tenang dengan berakhirnya kisah yang harus ia alami dalam novel dan juga dunia nyata. Kini ia telah hidup dalam dunia barunya. Tapi, selamanya, ia akan tetap hidup dalam sakit, dendam dan amarah yang akan terlihat dan nampak dalam karya-karyanya.
Selesai
:

"

Tanpa Nama


Cinta telah membawa sebuah penantian panjang dalam hidup Rahma. Penantian yang tiada ujungnya. Penantian yang tiada titik temu dalam perjalanan mencari sebuah petunjuk. Kebimbangan dan kegalauan menggelayuti dirinya. Mengusik kehidupan dan meninggalkan sebuah luka. Pencarian dan penantian begitu lama ia hadapi. Siapa? Dimana? Dan kemana?
Sebuah puisi dalam secarik kertas, masih ia simpan dalam sebuah kotak di laci kamarnya. Sebuah puisi tanpa nama. ‘Siapa gerangan? Dan untuk apa?’ Hatinya terus diliputi tanya dan rasa penasaran. Prahara mulai memanas dan memuncak, tatkala ada cinta dalam hatinya. Sebuah cinta yang tak tahu harus ia uangkapkan kepada siapa. Memendam cinta abu-abu bagai hidup tanpa arah dan tujuan.
Hati kecilnya enggan untuk menyerah. Mencari dan terus mencari. Siapakah gerangan yang telah menulis puisi nan indah untuknya. Cinta telah hadir lantaran membaca lantunan bait cinta nan indah dan mendayu-dayu. Mengalun lembut mengikuti sebuah irama, menyentuh hati hingga terasa nikmat yang luar biasa. ‘Akankah cinta ini terbalas?’
“Sampai kapan aku harus mencari? Dan akan terus menanti. Penantian yang mungkin tiada berarti dan hanya sia-sia.” Rahma mengamati sebuah secarik kertas bertuliskan puisi itu. Hatinya menerawang jauh, penuh kebimbangan dan tanya. Hatinya tak kuasa menopang cinta yang teramat besar dibalut rasa penasaran. Matanya terus terbuka tanpa berkedip. Berfikir dan menerawang kejadian-kejadian di masa lampau.
“Apakah benar, Dony yang telah menuliskan puisi ini untukku?” Tanya Rahma. Ia sangat mengagumi Dony. Dia adalah teman sekelas Rahma di kampusnya. Tapi, selama ini ia hanya memendam perasaannya pada Dony. Ia tak berani mengungkapkan rasa kagumnya terhadap Dony. Ia hanya bisa hidup dengan perasaannya. Hidup dengan bayang-bayang cinta semu.
Kemarin, ia melihat Dony meminjam buku yang sekarang ia pinjam. Ternyata, di dalam buku itu bertuliskan sebuah puisi. Puisi yang mengungkapkan perasaan cinta terhadap seseorang. ‘Tetapi, untuk siapa puisi itu ditulis?’ Tanya Rahma dalam hati. Hatinya terus bertanya, dan berharap bahwa puisi itu Dony tulis untuk dirinya. Sekarang, Dony juga mulai mendekatinya. Dulu, ia sangat cuek terhadap Rahma. Hatinya pun semakin penasaran. “Apa benar, Dony menuliskan puisi ini untukku?” Tanya Rahma pada dirinya sendiri.
Rahma memasukkan puisi itu ke dalam laci meja belajarnya. Kemudian ia berbaring di atas kasur membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Hatinya masih penasaran dengan puisi itu. Apalagi, kini sikap Dony terhadapnya juga berubah. Tidak seperti dulu, cuek. ‘Tapi, kenapa justru Dony lebih sering membahas Angga? Aneh!.” Pikir Rahma.
“Sudahlah. Yang penting, sekarang aku sangat senang dengan puisi itu. Entah itu dari Dony atau bukan, tak masalah bagiku. Tapi, apa benar hatiku merelakan Dony begitu saja? Aku sangat mencintainya. Kalau bukan untukku, lalu untuk siapa? Siapa wanita yang Dony maksud dalam puisinya itu? Kenapa Aku melihat tulisan Rahma dalam kertas itu? Terus sikap Dony juga biasa padaku, hanya lebih akrab saja.” Kata Rahma panjang lebar.
Rahma hanya bisa menebak dengan hati yang diliputi rasa penasaran yang terus menggunung. Ia tak tahu harus mencari tahu dari mana. Tapi, ia juga tak kuasa menahan perasaannya terhadap Dony. “Angga, kan sahabatnya Dony. Tapi, sikapnya begitu cuek terhadapku. Bahkan, dia terlihat kaku saat aku bertanya padanya. Kenapa, ya?” Tanya Rahma penasaran. “Mereka berdua benar-benar aneh, akhir-akhir ini.” Kata Rahma.
Rahma mendapatkan puisi lagi dari sebuah buku yang ia pinjam dari perpustakaan kampusnya. Entah siapa yang telah menuliskan puisi nan indah itu. Dan untuk siapa puisi itu ditulis. Luapan perasaan, dan jeritan terdengar tatkala ia membacanya. Merinding seketika, hawa sejuk dingin menggelayuti leher dan tubuhnya. Sebuah puisi permintaan maaf terhadap orang yang sangat dicintai. ‘Ah…, mungkin ini hanya perasaanku saja, yang tengah merindukan seseorang’. Kata Rahma tatkala membacanya. Ia sadar, bahwa puisi itu bukan untuknya.
Ia tetap menyimpan puisi itu dalam sebuah kotak. Kini, ia mempunyai sebuah misi mencari titik temu akan sebuah puisi nan misteruis itu. ‘Siapakah gerangan yang telah menulisnya’ Katanya dalam hati. Puisi yang lahir dari buah pemikiran dan luapan perasaan yang teramat dalam. “Kata maaf untuk apa? Sakit apa yang sebenarnya ia lakukan pada kekasihnya?” Tanya Rahma pada dirinya sendiri. “Sebuah puisi tanpa nama. Tapi penuh makna.” Kata Rahma. “Apakah puisi ini amat berarti dalam hidup orang itu? Hingga secarik kertas bertuliskan puisi ini bergelombang dan memudar penanya. Sepertinya, air mata kesedihan telah membasahi kertas ini saat ia menulisnya.” Kata Rahma. “Aku tidak bisa menggambarkan rasa sedih seperti apa yang ia rasakan. Dan menyakiti seperti apa yang ia maksudkan.” Kata Rahma lagi.
Maafkan Aku
Maafkan aku jika pertemuan itu membuat hatimu sakit
Ingin sekali aku membalas senyum yang sudah kau berikan
Tapi aku justru membalasnya tanpa senyuman
Ingin sekali aku membalas tatapan yang kau tujukan padaku
Tapi aku berpaling seolah-olah tidak tahu
Ingin sekali bercanda seperti pertemuan dahulu
Tapi aku justru membalasnya dengan kebisuan
Ingin sekali engkau pergi dengan membawa segunung semangat yang aku berikan
Tapi aku justru memberikan beban seluas air di lautan
Maafkan aku,
Ingin sekali engkau mengerti apa yang ada di dalam lubuk hati ini
Sikapku membuatmu marah
Jika kau mau menggali lebih dalam
Akan engkau temukan cinta yang selama ini kau cari
Tapi..
Aku tak mengerti dengan jalan otakku
Menyakiti dan selalu menyakiti orang yang ku cintai
“Kamu mau kemana, Ma?” Tanya Eva, teman satu kelasnya. “Aku mau ke perpustakaan, mengembalikan buku.” Jawab Rahma. “Kalau begitu, aku ke kantin dulu ya, sama Aris.” Kata Eva sambil tersenyum pada Aris. “Oke…” Jawab Rahma. Ingin sekali ia bisa bermesraan, dan terpancar kebahagiaan karena cinta, sebagaimana apa yang tengah Eva dan Aris rasakan. ‘Tapi, sayang. Kini Dony telah tiada. Namun, rasa cinta ini entah kenapa masih saja bersarang di hatiku. Bahkan, aku belum sempat mengutaraknnya, saat ia pergi untuk selama-lamanya’ Kata Rahma dalam hati, kemudian membuka pintu perpustakaan untuk masuk.
Rahma langsung mengambil posisi duduk di bawah AC, sesudah mengurus pengembalian bukunya. Di sampingnya, ada dua orang cewek. Matanya memerah, hidungnya memerah dan sesekali ia mengusapnya dengan tisu. Kedua pipinya basah karena air mata. Rahma hanya menatapnya sejenak, kemudian mengabaikan kedua orang itu. “Maafkan aku Don…” Isak cewek yang sedang menangis. “Sudahlah, Sya! Kamu harus bisa melupakannya. Dia sudah pergi.” Kata temannya menenangkan. “Aku mungkin saja bisa melupakannya. Tapi, aku merasa bersalah pada Don. Aku tidak bisa melupakan kesalahanku pada Don.” Jawab cewek itu.
“Dia sudah tiada. Kamu harus bisa bangkit. Jangan sampai kamu terus dihantui rasa bersalah itu. Kamu akan semakin tertekan.” Kata temannya. “Sudahlah Sya, Dony sudah tiada. Aku yakin dia pasti memaafkanmu.” Kata Angga yang langsung mengejutkan Rahma yang sedang membaca, mengalihkan perhatiannya. Hatinya seperti di hantam godang, hancur lebur tak karuan.
“Aku menulis puisi untuknya sebagai ungkapan maaf. Aku menaruhnya di dalam buku yang aku pinjam dari perpustakaan, dan aku lupa mengambilnya. Aku ingin memberikan puisi itu pada Don, aku ingin ia membacanya, aku ingin dia tahu bahwa aku sangat mencintainya. Sikapku selama ini terhadapnya, hanya sebuah kesalahpahaman. Aku bersikap demikian karena aku trauma dengan masa laluku yang sering disakiti. Aku tidak bermaksud menyakitinya. Tapi, kini Don telah tiada…” Kata cewek yang dipanggil, Sya oleh temanya dan juga Angga. Ia menagis tersedu-sedu dan tidak bisa menahannya.
‘Apa?! Jadi, puisi yang berjudul maafkan aku itu? Cewek itu yang menulisnya? Untuk Dony, orang yang telah disakitinya. Orang yang sangat menintainya.’ Kata Rahma dalam hati. Hatinya penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. Rahma begitu sangat mencintai Dony. Tentu ia tak ingin ada orang lain yang menyakitinya, bahkan hingga membuatnya bunuh diri hanya karena cinta terhadap cewek itu. Hatinya sakit.
“Ini puisimu. Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau puisi itu milikmu. Aku menemukannya di dalam buku yang aku pinjam. Tidak seharusnya kamu menyakiti, Dony. Dia sangat mencintaimu. Dan aku…” Rahma menghentikan perkataannya sejenak. “Aku sangat mencintai Dony. Tak ada sedikit pun kata menyakiti dalam hatiku. Terlebih untuk orang yang sangat aku cintai.” Rahma kemudian pergi begitu saja. “Aku tidak bermaksud menyakitinya… aku sangat mencntai Don…” teriak gadis itu sambil menangis meraung semakin keras. Ia tak mau dikatakan bahwa dirinya telah menyakiti orang yang sangat mencintainya.
Angga pun segera mengejar Rahma yang keluar dari perpustakaan. “Tunggu Rahma!” Angga meraih tangan Rahma. “Lepaskan aku Angga. Aku sangat benci dengan gadis itu. Tega-teganya dia menyakiti Dony. Dony tidak akan senekat itu, dengan melakukan bunuh diri hanya karena gadis itu. Dia merasa bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa orang yang dicintainya. Lalu bagaimana denganku? Aku sangat mencintainya. Dan aku sangat sakit saat mengetahui Dony mati gara-gara dia. Orang yang sangat dicintai Dony.” Rahma menangis di hadapan Angga. Kemudian ia duduk pada sebuah kursi.
“Aku pernah mendapat puisi. Sebuah puisi tanpa nama. Di sana tertulis namaku, Rahma. Aku merasa bahwa itu dari Dony. Karena sikapnya akhir-akhir ini padaku jauh berbeda dari sebelumnya, dia begitu ramah dan dekat denganku. Tapi, melihat kenyataan ini rasanya semua itu tidaklah mungkin. Dony lebih mencintai wanita itu. Entahlah…, lebih baik aku lupakan saja puisi-puisi tanpa nama itu. Semua ini hanya perasaanku saja yang terlalu merindukan seseorang.” Kata Rahma yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“Kenapa Rahma, aku masih belum bisa memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaanku padamu.” Kata Angga, sambil mengamati foto Rahma yang ia dapatkan dari Dony. “Kini, Dony sudah tiada. Tak ada seseorang yang bisa menolongku. Aku hanyalah pengecut. Laki-laki yang tidak punya keberanian. Bahkan, untuk memperjuangkan cintaku sendiri.” Kata Angga.
“Itu hanyalah sebuah puisi tanpa nama, aku tak memiliki keberanian juga untuk menuliskan namaku di kertas itu. Andaikan aku menuliskannya, niscaya aku akan menolong diriku sendiri saat Dony sudah tiada. Ini kebodohanku, dan aku hanyalah seorang pengecut…!” Angga pun membakar foto Rahma, dan mengambil sebilah pisau yang bersandar di buah apel, lantas ia memotong urat nadinya. Cinta benar-benar telah membuat ia putus asa dalam menjalani hidupnya. Hingga ia harus mengakhiri kisah cinta dan hidupnya.
Selesai

Senin, 03 Maret 2014

Pengorbanan Ibu

Wanita separuh baya asik mengeruk sampah dan dimasukkan didalam tas Plastik hitam besar miliknya. Dengan penuh pengorbanan melawan panasnya matahari hari ini dan pulang saat Senja tiba. Keringatnya membasahi keningnya. Sesekali ia mengusap keningnya untuk menghapus keringatnya.
Baju yang tak lagi bersih ia gunakan. Celana pendek yang dipenuhi dengan kotoran akibat terkena sampah masih juga ia gunakan untuk mendapatkan uang.

Ia wanita, sebagai Ibu yang mengurus rumah tangga dan juga sebagai kepala keluarga. Suaminya tlah lama meninggal akibat jatuh dari bangunan tinggi. Hanya sebuah becak, yang ia punya sebagai alat transportasi.

Saat matahari masih belum muncul sempurna, wanita itu sudah semangat mendapatkan rupiah untuk menyekolahkan Appril. Wanita itu bangun sebelum ayam berkokok dan adzan berkumandang. Segera ia keluarkan becaknya dan segera membersihkannya, setelah itu ia memasak walau hanya menggoreng tempe dengan kerupuk.
***
"Buk, kata bu Guru, jika Appril nggak bayar uang SPP Appril nggak boleh ikut pelajaran. Terus tadi waktu sekolah, Sepatu Appril sudaj rusak, sobek dan terasa sakit jika dipakai. Apa ibu punya uang?jika tidak, bolehkan Appril kerja kayak ibu?ayolah, Appril nggak mau nyusahin ibu".
Ibunya berhenti melipat sajadah setelah ia melakukan sholat di Masjid.
Appril yang terlihat sangat sedih, hanya menatap sepasang mata Ibunya yang mulai membendung air mata.

"Appril dirumah aja ya, biar ibu yang cari uangnya. Maafkan ibu nak, ibu nggak bikin kamu bahagia".
Appril termenung mendengar ucapan yang terlontarkan dari mulut ibunya.
Keinginannya ingin sekolah tanpa setiap hari di panggil oleh Guru untuk menagih uang Spp. Lebih lagi, kakinya yang sudah lecet akibat sepatunya yang rusak membuat keinginannya untuk membeli sepatu bagus yang terjual ditoko. Bukan mengambil di rongsokan.

kesedihan menyelimuti hati mereka. Keluarga kecil yang dipenuhi dengan cobaan. Cobaan yang mampu membuat mereka tak sanggup lagi bertahan hidup. Tapi ada sebuah Cιπ†α dan kasih sayang mereka yang mampu membendung putus asa.
***
"Maaf Appril, kamu nggak bisa ngikutin pelajaran karna kamu belum membayar uang Spp. Dan juga kamu belum beli sebuah LKS".
Deg..
Deg..
Deg...
Hatinya Merintih kesakitan. Matanya tak sanggup lagi untuk membendung air mata. Kakinya yang masih sakit berusaha untuk berlari akibat keputus asa'an.

Ia berlari sekuat tenaga. Dan merenungi semua nasibnya. ia berhenti tepat ditaman sekolahnya. Appril hanya diam terpaku diiringi dengan tetesan air mata.

Teeettttttt.....
Bel sekolah sudah berbunyi, semua siswa keluar dari kelas untuk istirahat dan mengisi perutnya.
"Hmmm, liat ni aku punya Es krim dan siomay. Hahaha nggak kayak dia, dia pasti kelaparan dan menangis tak punya uang". Semua hinaan yang terdengar lantang dari telinga Appril membuat hatinya semakin kecil.

Мέмαиб benar, ia merasakan lapar dan haus. Ia tahan semua rasa laparnya. Bibirnya sesekali mengecap karna ingin merasakan makanan yang teman-temannya rasakan.
***
Ibu Appril sekuat tenaga mengumpulkan uang untuk membelikan Appril sepatu baru agar kakinya tak lagi merasakan kesakitan.
Ia menguras seluruh tenaga. Setelah menjadi seorang tukang becak, ia berjalan menuju pasar untuk menjadi orang bantu disana. Setelah langit berubah menjadi warna Jingga, Senja pun datang.
Ibu Appril memarkirkan becaknya didepan gubuknya. Ia kembali membanting tulang sebagai seorang pemulung. Ia kumpulkan barang-barang bekas yang dapat ia jual. Sampai malam harinya pun ia tetap sekuat tenaga menggendong sampah-sampah yang dapat dijual kembali.
***
Seulas senyum kini dilakukannya. Bahagia, sangat bahagia melihat hasil kerja yang ia lakukan demi anaknya.
Ia menghitung jumlah uang yang ia dapat tadi. Sepertinya, uang ˚̷ɪ̷̜̇ťΰ lebih dari cukup untuk membeli sepatu dan membayar uang Spp.

Ia kantongi lagi uang itu dan berjalan menuju rumah kepala sekolah Appril untuk membayar uang SPP. Setelah selesai membayar uang Spp, ia berjalan menyusuri ramainya jalan raya.

Matanya sangat membuat hatinya bahagia saat melihat sebuah toko sepatu berdiri tepat didepannya. Ia segera memasuki toko tersebut dan membelikan sebuah sepatu.
****
Appril menunggu cemas tepat didepan gubuknya. Dimanakah seorang ibunya? Becak sudah terparkir tepat didepan gubuknya. namun ibunya tak ada. 10menit kemudian ia tunggu sampai ia meneteskan air matanya.
Namun, kesedihan itu terpecahkan saat matanya menangkap sebuah wajah ibunya sudah berdiri diseberang jalan dengan kwitansi dan sebuah sepatu baru untuknya.

Ibunya tersenyum bahagia melihat Appril sudah menungunya didepan gubuknya. Gubuknya terletak diseberang jalan , tanpa berpikir panjan ia menyebrang untuk menghampiri anaknya. Namun..
Brakkkk.....
Duarrrrrr......
Nasib malang menimpanya. Sebuah truk besar berhasil menabrak tubuh wanita separuh baya itu.

"Ibuuuuuu". Segera Appril menghampiri ibunya diseberang jalan dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
Appril memeluk tubuh ibunya yang dipenuhi dengan darah.
"Ini sepatu untukmu,dan besuk Appril harus sekolah ibu sudah membayar Spp nya, maafkan ibu tak bisa merawatmu sampai kau besar. Allah sudah memanggil ibumu ini nak. Teruskanlah pendidikanmu, jangan sampai kamu putus sekolah. Terus semangat dan jangan sampai menyerah". Ibu Appril menyodorkan sepatu yang tadi ia belikan untuk anaknya. Tangannya berdarah, sampai banyak bercak darah disepatu itu.

Appril terus saja memeluk ibunya dengan jeritan hati mencekam.
Ia semakin sedih saat mengetahui ini adalah hembusan nafas terakhir ibunya.

Ibunya yang bertekad seperti sosok ibu kartini.
Bertekad untuk menyekolahkan Appril.
Bertekad untuk membelikan sepatu baru untuk Appril.
Bertekad menahan rasa lapar sewaktu kerja.
Bertekad menghidupi Appril dengan tubuhnya yang mulai renta.
Bertekad untuk memberikan kebahagiaan untuk Appril.

Semua yang diberikannya bagaikan seindah bunga mekar dan secantik bidadari.
Appril bangga mempunyai ibu seperti Ibu Kartini.
Ibu yang selalu menjujung tinggi nama pendidikan, ibu yang selalu mendorong anaknya untuk belajar.
Ibu yang mengorbankan tenaganya untuk menyekolahkan anaknya.

Dialah ibu yang Appril banggakan.
Dialah ibu yang Appril Cιπ†α.
Dialah Ibu yang Appril sayang.
Dialah ibu yang slalu ia kenang.
Dia Ibu...
Ibu...
Dan Ibu...

Cinta tak harus dimiliki

Dia menyusuri jalan tanpa henti-hentinya Menangis. Berada ditengah-tengah keramaian orang.
Tempat orang-orang memiliki tujuan untuk berbelanja , tapi berbeda dengannya.

Tujuan utamannya adalah menjauh dari laki-laki yang ia puja. Berusaha untuk menahan rasa cιπ†α yang ada. Berusaha untuk mengalah demi kebahagiaan mereka.
Cιπ†α мέмαиб butuh berkorban. Maka, inilah yang disebut pengorbanan.

Menahan rasa sesak didada. Melawan kata cιπ†α di hati. Menutupi kerasnya jeritan hati nya. Agnes мέмαиб membutuhkan itu. Menutupi hati dengan tembok baja yang mampu membawanya dalam ketegaran.

Dia terus berlari. Matanya tak perduli keadaan sekitar. Langkahnya berusaha untuk ikut serta menguatkan hati yang kini terasa makin sakit.
Air matanya kini tlah berhasil membuat pipinya basah.

Agnes hanya ingin pergi dari sosok laki-laki yang ia cintai. Setelah munculnya penyakit yang hampir membuat Agnes putus asa untuk melanjutkan hidup kembali. Ia tak ingin kekasihnya menyesal telah menjadi pendampingnya. Tak lepas pula perasaan kakaknya yang jatuh cιπ†α kepada Dito. Kenyataan ini memaksa Agnes untuk selalu rela, bertahan bahkan Tegar.

Tak sadar, Dito tlah berhasil memeluk Agnes dari belakang tubuhnya.
Agnes yang mengerti bahwa itu Dito, secepat mungkin ia membalikkan badan dan memeluk Dito. Ia menangis dibahu Dito. Dito memeluk erat tubuh Agnes. Mereka berdua tak peduli berapa pasang mata tlah menatap mereka dengan penuh kebinggungan.
"Jangan pergi Agnes".
"Kau tak memenuhi permintaanku".
Dito menghela nafas kembali saat mendengar ucapan gila dari mulut Agnes.
"Permintaanmu itu konyol!mana mungkin aku sanggup berhenti mencintaimu dan memulai cιπ†α baru dengan kakakmu".
Perlahan, Agnes melepaskan pelukannya. Ia kecewa dengan pernyataan Dito. Agnes tak lagi berbicara, ia termenung dalam kesunyian yang mencekam hati.
****
"Anda perlu melakukan khemoteraphi seminggu tiga kali dan atau menjalankan sebuah operasi".
Saat suara dokter nyaring terdengar di telinga Agnes, saat itulah ia teringat kembali pada 2orang yang ia sayangi.
Tak ada pilihan dihidupnya.
Menjalani kemotherapy atau operasi. Jika ia lakukan salah satu dari pengobatan tersebut, kak Appril dan Dito pasti akan tau penyakitnya.
Lagi pula, cιπ†α nya kini di Ambang rasa binggung. Tertutup oleh kabut hitam lekat. Tak ada pintu walau secuil pun untuk masuk kedalam cintanya.
Dihati nya tak ada siapapun. Namun, dihatinya masih ada bayangan sosok Dito. Yang sebentar lagi akan milik kakaknya. Ia memang benar-benar harus rela dengan semua ini.
***
"Kak, Dito ajak kakak Dinner nanti malam". Dusta Agnes.
Seketika Appril berhenti melahap makanannya saat mendengar ucapan Agnes yang tiba-tiba membuat hatinya seakan hidup kembali, setelah menunggu Dito merespon hatinya.
"Kenapa dia nggak bilang ke aku langsung ya?oke, yaudah deh jam berapa?".
"Saat Senja mulai hilang".
***
Saat Mendekati waktu Senja, Agnes mengeluarkan handphone nya dari saku Dress nya. Ia mengirimkan pesan untuk Dito. Appril yang sempat melihat Agnes sibuk dengan Handphone nya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.

Senja pun berakhir, warna Jingga pun mulai redup. Dito yang sudah memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Agnes segera mengetuk pintu rumah Agnes.
"Nes?tolong bukakan pintu dong, pasti itu Dito. Kakak lagi cari gadget kakak". Ucap Appril yang sibuk mencari gadgetnya yang entah lari kemana.

Tangan Agnes perlahan meraih Handle pintu rumahnya, dan segera membukanya. Mata Dito terbelalak saat melihat penampilan Agnes yang sangat sederhana. Hanya menggunakan celana pendek dengan kaos polos.
"Loh?bukankah kita akan Dinner?".
Agnes hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
***
Dinner pertama yang seharusnya membuat hati Appril sangat bahagia lenyaplah sudah. Dinner yang ia harapkan adalah keromantisan yang tergambarkan dari perilaku Dito. Namun, Dito hanya Diam dan tak ingin mengawali pembicaraan. Mimik wajahnya tak menggambarkan sebuah kesenangan.
"Dit?kamu sakit ya?".
Dito hanya menggeleng pelan tanpa memandang wajah Appril.

Kekecewaan pun melanda hati Appril. Tapi ia bertekad bahwa adik kesayangannya tak boleh mengetahui keadaan ini. Ia tak ingin melihat kesedihan menempel pada hatinya.
Appril rasa, cukup dia saja yang tau bahwa hatinya kini tlah hancur.
***
Tok..Tok...Tok
Appril terbangun dari tidurnya yang lelap akibat dinner tadi malam. Segera ia buka pintu kamarnya.
Matanya seketika terbelalak kaget saat melihat keadaan wajah adiknya sangat pucat, dan dengan rambut yang sudah tak lagi panjang. Mungkin ia memotong rambutnya semalam. Tapi, wajahnya kini sangat pucat.
"Kau sakit?kenapa dengan rambutmu?kau sakit apa Agnes!?".
"Cuman,cuman,cuman sakit.....sakit itu..em oh ya kak, kakak abis ini dandan yang cantik. Dito udah jemput kakak didepan rumah, dandan yang Cantik ya!".

Agnes berjalan pergi dari kamar Appril dan keluar menemui Dito yang sudah memakai Kemeja dengan Jeans panjang. Dito kembali merasakan kebingungan saat melihat Agnes masih menggunakan pakaian tidur. Agnes hanya tersenyum melihat mimik wajah Dito.
"Loh ini kenapa lagi? Kenapa masih menggunakan pakaian tidur. Bukankah kita akan hangout?".
Lagi-lagi, Agnes menggeleng pelan, dan masuk kedalam rumah.
***
Mereka berdua terpaku diam tanpa suara. Diiringi dengan tenangnya air mengalir disungai dekat taman itu. Bunga-bunga mengalun perlahan mengikuti kemana terbangnya angin.
Membuat keadaan ini semakin sunyi.
Tak ada yang ingin mengawali pembicaraan. Bahkan hanya seucap kata tak terlontarkan dari mulut mereka.

Drrrtt...
Handphone Dito bergetar, segera ia Ambil handphone nya dari saku jeans nya.

'Mas Dito, mbak Agnes mas, dia sedang kritis dirumah sakit. Mbak Agnes mempunyai penyakit leukimia yang kini sudah menyebar diseluruh tubuhnya..mas dito cepet dateng ya.'

Matanya terbelalak melihat sms dari mbok inah pembantu Agnes dirumah.
Dan yang sangat ia kagetkan, mengapa selama ini Agnes sama sekali tak memberitahukan tentang penyakitnya kepadaku. Hatinya hancur. Seakan Dito tak sanggup lagi bernafas.
Segera ia raih tangan kanan Appril dan menuntun cepat Appril untuk segera masuk kedalam mobil.

Appril yang tak dapat penjelasan dari Dito mengapa Dito tiba-tiba membawaku masuk kedalam mobil dan menyetir mobil milik Dito menuju Rumah sakit. Appril tak tega menanyakan kebingungannya disaat Dito sedang panik.
****
Appril dan Dito sangat kaget melihat orang yang disayanginya sedang terbaring lemah diatas kasur, dilengkapi dengan infus, oksigen dan berbagai alat medis yang sedang menempel pada tubuhnya.
Appril mendekati Agnes dengan penuh rasa iba. Ia genggam tangan kanan Agnes dan mulai menangis penuh dengan kekhawatiran. Tak berbeda jauh dari Dito. Dito menggengam erat tangan kiri Agnes. Air matanya mulai menetes dan berhasil membuat pipinya basah akibat air matanya.

Agnes mulai bergerak. Matanya kini mulai bangun. Dia berikan seulas senyum kepada Appril dan Dito.
Diraihnya tangan mereka berdua dan digenggamkan menjadi satu sebuah genggaman.
"Kalian berjanji akan hidup bersama?Dito jaga kakak aku ya, jangan pernah sakiti dia. Karna cιπ†α dan hati ku akan aku titipkan pada kakakku. Jika kau sakiti kakakku, aku juga akan sangat sakit". Ujar Agnes lirih karna tak kuat lagi untuk berbicara.
Appril hanya mengangguk dan tangisnya mulai membara. Dito tak kuat melihat keadaan Agnes sekarang.

"Agnes, kamu harus kuat!Agnes yang aku tau itu bukan lemah!". Teriak Dito semaikin menjadi-jadi.
Agnes melambaikan tangan kepada mereka. Dan seketika nyawanya pergi meninggalkan tubuh Agnes. Tangis Dito dan Appril dapat memenuhi suara disetiap sudut ruangan itu.
Dan saat dirinya terbang jauh tinggi keawan, dirinya sadar bahwa semua adalah Cιπ†α.
Cιπ†α membutuhkan pengorbanan...
Cιπ†α membutuhkan Ketegaran...
Cιπ†α Membutuhkan keiklashan.
Cιπ†α Membutuhkan Ujian...
Baru ia Sadari bahwa Sebuah
Cιπ†α Мέмαиб Tak Harus Dimiliki....

Minggu, 02 Maret 2014

Separuh Coklat Hati

Aku terlelap dalam mimpi indah ku yang mampu membawa ku dalam ketenangan. Entah sampai kapan laki-laki separuh baya ini masih menemani disampingku. Setelah aku sadar kehadiran laki-laki ini membuatku terasa dalam kehidupan damai dengan melawati jalan tanpa sebuah cacat sedikit pun. Kehadiran laki-laki ini mampu membuatku tersenyum lepas.
Dia bagaikan matahari yang slalu membantu bulan untuk menyinari bumi walau memang pada malam hari ia tak kunjung datang. Namun Bulan, dia terlihat sendiri tapi, tak dapat berdiri sendiri.
Itulah kehidupanku, aku diciptakan dengan kedua kaki ku untuk berjalan melangkah secara bergiliran. Hati ku terlelap sendiri, tapi tak dapat berdiri sendiri. laki-laki itulah yang telah berani mengambil hati ku. Sekarang, dimana tanggung jawab nya. Dimana ia sekarang, aku sudah muak menerima ini. Hanya sebatang Coklat itulah yang kau beri kepada ku sebagai tanda tanggung jawab.
* * *
"Bulan, aku ingin kita ke puncak Besuk".
Aku heran dengan ucapan teman dekatku. Jarang bahkan mungkin sama sekali tak pernah ia mengatakan ingin ke puncak . Mata ku tlah berhasil dibuatnya terbelalak.
"Ha?untuk apa Binar? Tidak, aku nggak akan ngizinin kamu pergi. Kamu punya kaca kan? Lihat keadaanmu sekarang!". Jujur saja, aku sangat khawatir dengan keadaannya. Bibirnya pucat, semangat nya kini hilang diterpa angin dan terbawa oleh gelombang air laut. Mata nya tak lagi cerah, bak air sungai tercemari Sampah-sampah jahat menyerang.
"Hmm, sebelum hari Valentine"
"Valentine?" Desisku panjang.

* * *
Hari ini mata ku terasa segar kembali melihat pohon-pohon mengayun bergoyang pelan. Daun-daun menari disorong angin sepoi-sepoi.
Berulang kali aku tersenyum melihat semua yang telah ditangkap oleh Mataku sendiri.
Tak sadar aku kembali merasakan kenyamanan. Tangan ku digenggam erat oleh Binar. Diciumnya beberapa kali tanpa rasa bosan menyelinap hati nya. Dia hatnya menatap kedua mata ku dengan sangat lekat. Disetiap sudut mataku, ia lakukan hal yang sama.
Menerobos masuk kedalam bagian dalam pupil mataku.
"Happy valentine"ujarnya sesekali mencium tanganku yang sudah berhasil berkeringat karna ulahnya.
"Hmm, kenapa kamu lakukan ini semua"
Suasana hening, tak terdengar alunan suara darinya. Ia hanya menyodorkan Coklat berbentuk hati di lindungi oleh kardus indah berwarna pink dengan putih sebagai atapnya. Jadi, dengan mudah mengintip isi kardus itu dengan mudah. Binar mengambilnya dari saku celana Jins nya. Ia tersenyum padaku.
"bawa coklat ini pulang, oh ya dibuka nanti malam. Just for you"
Ku gelengkan kepala ku pelan. Ini semua seperti mimpi seorang Putri mendapatkan sebuah coklat dan untuk membuka nya saja punya aturan.
* * *
Kubuka perlahan isi kardus Valentine yang Binar berikan tadi. Aku semakin. Tak mengerti dengan semua ini. Terselip sebuah kertas berisi goresan tangan Binar bertinta merah.
Jantungku semakin berdetak tak karuan. Kubaca dengan sangat teliti surat dari Binar.
(Bulan, maafkan aku. Aku sengaja meninggalkanmu. Aku tak ingin dekat denganmu dalam keadaanku seperti ini. Aku harus menjalankan Operasi di Jepang. I love you.. Aku akan kembali saat keadaanku memang benar-benar sehat. Entah itu 10 tahun lagi. Aku harap kamu juga mencintaiku.. Terimalah coklat hati dari ku I love you)
"Binar!" Teriakku diiringi dengan. kesedihan hati, jiwa dan mata. Aku tak dapat membendung air yang telah bergenang di mataku. Suara ku kini tlah mampu memenuhi ruangan, hingga orang-orang yang tak tau apa yang aku rasakan , mengira aku sudah gila. Kudekap coklat hati darinya. Tak ada bagian coklat yang aku cuil sedikit pun.
Hingga akhirnya, aku datang setiap harinya ke tempat pertama coklat ini jatuh ditanganku. Hanya suara ayunan lemah angin menghantam pelan dedaunan dan kicauan burung bernyanyi.
Aku sedikit kecewa dengannya. Binar? Dimana kamu sekarang.. Aku terduduk lemas tanpa energi yang tersisa. Aku duduk lagi-lagi ditempat pertama coklat itu jatuh ditanganku.
"Binar!!! Dimana kamu! Ini sudah hari Valentine tahun ke 14. Tapi dimana letak bantang hidungmu! Kau jahat!" Aku teriak sekeras mungkin berharap seseorang yang ku harapkan mendengarnya.

Sebuah lemparan coklat dengan kertas diatasnya entah dilempar dari mana asalnya, itu cukup membuat hati ku agak terdorong lega dan sedikit demi sedikit dapat merasakan nafas yang setiap kali kuhirup.
Kubuka perlahan isi surat itu..
Dan..
( aku sudah menyuruh seseorang untuk mengirimkan 14 coklat ku untuk mu dirumahmu. Aku rasa, aku tak dapat melanjutkan mengirimkan coklat untuk valentine selanjutnya. Aku terbaring lemas diatas ranjang kasur rumahku di Indonesia telah lama kurang lebih 3bulan. Aku ingin kau berikan aku cukup 1 coklat hati untuk yang terakhir kalinya, aku ingin disaat bulan kehilangan cahaya Binarnya. Datanglah dirumahku, aku akan mengabadikan semuanya sampai tutup usia ku)

* * *
Aku terbaring diatas rerumputan hijau menggelar diatas bumi. Melawan panasnya matahari, dan memandang luasnya langit biru.
Binar tak berubah bagi ku. Dia tetap berhasil membuat tanganku berkeringat. Diterbaring lemah disampingku.
Ku ambil coklat hati dari tas pinggang pink ku yang sudah kusediakan tadi.
Ku angkat tinggi-tinggi coklat hati. Kupotong menjadi 2 bagian. Dan bagian 1 ku berikan kepada binar.
"Ini. Just for you. Kamu tau betapa sakitnya coklat dibagianku karna sudah ku pisahkan dengan coklat pasangannya. Jadi, inilah keadaanku saat kau pergi separuh hati ku mengikuti dimana setiap kau pergi. Aku mohon, kamu kuat melawan penyakitmu. " Ujarku memeluknya. Badanya semakin dingin tak melakukan gerakan sedikit pun. Coklat hati yang ia pegang tiba-tiba lepas sendirinya. Nafasku mulai terpenggal-penggal. Kugoyangkan tubuhnya. Tak ada reaksi.

Kugenggam erat tangannya. Ku letakkan separuh coklat hati didadanya. Tubuhku masih terhempaskan pada rumput hijau bersama laki-laki yang aku cintai. Kuletakkan separuh coklat hati milikku tepat di hatiku. Aku tersenyum. Aku memandang putihnya awan, birunya langit dan cerahnya matahari, namun pandanganku sedikit demi sedikit gelap. Nafasku sedikit demi sedikit menghilang. Genggamanku mulai terlepas. Kini kurasakan, terbang.
Terbang jauh tinggi bersama Binar menggunakan burung sebagai transportasinya. Kugenggam separuh coklat hati. Binar pun tak mau kalah. Aku bercanda, tertawa , bahagia dan tersenyum diatas langit biru bersamanya..
Bersama Binar dan sepotong Coklat Hati....
Baru ku tau arti sebuah Valentine. Hampir 14 tahun lamanya hati ku menghilang entah kemana, 14 tahun memendam rasa kasih sayang.
14 tahun aku dibuat jera olehnya.
Hingga Valentine yang terakhir kali aku rasakan , inilah hari kasih sayang yang tergambar jelas pada terakhir sampai ku tutup usia dengan Binar.
Tangan ku digenggam erat olehnya. Kupeluk tubuhnya. Kita berdua tersenyum memandang orang-orang dihari Valentine dan Coklat hati.
Aku rasa aku sangat bahagia hidup tidur nyenyak di awan putih bersama Binar.
Dan aku menemui Bulan seperti halnya nama ku.
Aku tak memikirkan apakah tubuhku dengan tubuh binar sudah dikuburkan. Karna yang aku tahu, sepotong coklat hati menempel pada dadaku dan dadanya.
Inilah kisah Cinta ku pada Valentine.
Terbang bersama Binar dan.... Sepotong Coklat hati.

Cinta Sejati

                                 Cinta Sejati
Aku melangkah dengan tubuh sempoyongan. Kepala ku sama sekali tak berani untuk mendongak. Mataku hanya menatap permukaan jalan dengan menyusuri setiap langkahan kaki ku.
Benar-benar hari ini hari yang nggak sama sekali tak aku inginkan.
Aku pertama kali memasuki bangku 'SMA' mungkin terlihat menyenangkan.
Aku pun senang masuk disekolah SMA. Tapi kenapa harus memakai acara Mos.
Acara Mos sangat tak menarik hati.
Kebayang nggak si, harus pakai kalung bawang, rambut diikat dua berpita pink. Lagi pula, aku juga nggak tergolong cewek centil dan menyukai warna pink. Aku mungkin nggak mau sama sekali terlihat Feminim.

Tetttttttttt
Bel sekolah berbunyi dengan sangat kerasnya hingga telinga ku dapat mengerti dan memahami apa artinya.
Segera kuberlari ku ayunkan kedua kaki ku secara bergiliran dengan cepat.
Huh.... Akhirnya sampai juga dikelas.
Setelah mungkin 10 menit kemudian Osis yang siap melakukan Mos datang dikelasku. Tak ada sama sekali yang menarik bagi ku. Ya, mungkin mereka tampan. Tiga orang laki-laki dan satu perempuan. Vino, Dion, Alvin dan Tasya.

"Kamu!" Hati ku tersentak dan jantungku berdegup lebih kencang lagi saat ketua osis menunjuk ku dengan pandangan suram.
"I.I...iya" jawabku.
"Jangan Melamun! Enak aja ya kamu nglamun saat pelajaran saya!"
Aku hanya mengangguk pelan tanpa suara. Hati ku terenyuh lembut.
* * *
Kulemparkan tas ku kedalam kamarku begitu saja. Mama pun hanya menatap ku penuh pertanyaan. Bukan aku namanya, jika bibirku tak ku tekuk menjadi lipatan manyun.
"Gimana tadi? Menyenangkan"
Apa? Menyenangkan, itu sama sekali tak tersentuh hati ku. Apakah benar yang disebut menyenangkan itu saat dimana orang-orang menerima penindasan yang sangat kejam. Nggak mungkinlah! Aku yakin seratuh persen kalau memang mimik wajah Mama mengetahui keadaanku sekarang,lalu mengapa mama harus melontarkan kata-kata yang Norak buat aku denger.
"Hmm,gitu deh ma.. Mama kaya nggak pernah muda aja deh" ujarku mendekati Mama yang sedang memasak.
Aku rasa , adegan norak yang tadi aku alami sudah waktunya aku pendam dan mulai melupakannya. Karna saat ini aku dan cacing-cacing diperutku mulai kampanye . Rasa Laparku terpancing saat kulihat olahan Ayam terpampang jelas didalam panci. Tangan kananku meraih pelan sendok yang ada di lemari piring.
"Sekalian ambil mangkok untuk sayur sop Nya , dan 3 piring ditata rapi diatas meja ya".
Segera kuambil Mangkok dan 3 piring ku tata rapi diatas Meja.
Aku mendekati lemari Es didepanku. Kubuka Handle pintunya, dan tanganku meraih Orange Juice kesukaanku . Setelah kembali menutup handle pintu lemari es, kuambil sedotan di rak sendok dan mulai memasukannya didalam Orange juice ku.
"Ma, tadi Jessica dibentak sama ketua osis yang jelek dan sama sekali nggak bermutu!"
Mama hanya memandangku Heran, dan dia mematikan kompor dan membawa panci kecil berisi ayam yang sudah kunantikan sejak tadi. Ia tuangkan perlahan masakan ˚̷ɪtu didalam piring serta dihiasi dengan 2 potongan Tomat đan wortel. Aku masih ϐεƖυ̲̣̥м menyentuh makanan ˚̷ɪ̇tu, karna aku masih menunggu jawaban dari Mama ƙΰ yang sedari tadi memandangku heran.
"Oh ya? Kamu punya salah kali?"
Ujar Mama memandangku lekat-lekat.
"Andai aja Ma, Jessica ikut kak Prety ke Singapore, Sekolah disana nggak nyediain orang kayak ketua osis itu"
***
Huh,
Sesekali ƙΰ usap keningku yang sudah terpenuhi dengan keringat akibat sengatan Matahari.
Apakah mama lupa dengan jam pulangku? Ini sudah melewati 1 jam setelah jam pulangku.
Mataku masih gelisah đan berulang kali menatap jam tanganku. Aku tak kuat lagi berada tepat dibawah teriknya siang ini. Badanku mulai melemas, kantung mata ƙΰ perlahan menutup..
***
Kulihat sekelilingku perlahan. Aku terbangun dari sebuah pingsan yang terjadi tadi siang. Saat aku menunggu sebuah kehadiran mama. Tapi, kapan aku pulang kerumah?setau ƙΰ jika tadi aku mengalami sebuah peristiwa pingsan, pasti aku sudah tergeletak lemas dipinggir jalan tadi. Apa mama sudah menjemputku saat aku pingsan?.
Ah sudahlah, aku binggung siapakah yang membawaku pulang kerumah.
Yang terpenting saat ini, aku sudah selamat sampai dirumah.
Kubuka Gorden Jendela perlahan.
Mataku terbelalak saat melihat sebuah motor vixion terparkir tepat didepan rumahku. Aku berpikir sejenak, apakah orang yang mengendarai motor itu yang telah mengantarkan ƙu pulang? Sepertinya aku pernah melihat motor itu tapi yang jelas aku tak tau siapa pemilik motor itu . Aku kembali menghempaskan tubuhku dikasur. Aku masih binggung đãπ sangat binggung,apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku? Siapa yang mengantarkan ƙΰ pulang?.

"Saya permisi dulu tante"
Terdengar jelas ditelingaku suara itu. Sepertinya laki-laki itulah yang sudi mengantarkan ƙΰ pulang. Bagaimana dia tau alamat rumah ƙΰ?...
***
"Sekarang kalian berlari keliling lapangan basket 10 kali dengan membawa pakaian unik yang terbuat dari kardus yang kemaren sudah saya suruh" ujar lantang Vino si ketua Osis yang sangat Norak itu.
Eh tunggu, apa dia bilang tadi? Pakaian kardus? Haduh, aku lupa membawanya, aku ingat betul terakhir kali aku meletakkan tugas itu di meja kamar ƙΰ.
Ƙΰ tundukan kepala dan mulai mendekati Vino. Setiap langkahku , diiringi dengan kecemasaan akan kebahagiaanku saat ini yang terlihat mulai udar.
"Kak, ma ma maaf jessica lupa bawa pakaian kardus, tapi , tapi Jessica udah buat kak" ujarku penuh kekhawatiran.
Aku masih saja tak mendongakkan kepalaku sedikit pun. Vino hanya menatapku tajam.. Dan ia pun menyuruhku untuk menatap wajahnya, perlahan ƙΰ dongak'an kepala ƙΰ, aku tersenyum penuh kekesalan yang melanda hati ƙΰ saat ini.
Tak sadar, sedari tadi kutatap wajah Vino. Dia manis juga kalau nggak marah-marah. Setelah kusadar dari lamunanku, kulihat sepasang mata nya . Masih menatap wajah ƙΰ.
"Kak"
"Oh eh iya, tadi kamu bilang, kamu lupa bawa apa?"
"Ak ak aku lupa..." Tak sempat kulanjutkan perkataanku, dia sudah menyambar ucapanku.
"Lain kali jangan sampai tertinggal ∂ΐ Meja kamar"
Loh? Bangaimana dia tau? Apa dia itu seorang peramal?atau dukun? Ah tidak mungkin.
"Vin! Cepet diurus tu yang lain, jangan ngurusin dia doang dong!" Suara yang terdengar nyaring ditelinga terucap dari mulut Tasya yang sepertinya sangat tak menyukai aku.
***
"Ma kemarin siapa yang mengantarkan aku pulang?"
"Vino"
Deg...
Deg...
Deg...
Apa maksud dari semuanya, awal jumpa dia memarahi ƙΰ, dan tiba-tiba sifatnya berbeda 180 derajat. Sepertinya tubuhnya kini tlah masuk kedalam hologram tubuh orang lain.
*****
Aku tak menyangka, kisah cintaku berawal dari kebencian yang mendalam. Sekarang, kuserahkan seluruh cιπ†α ku untuknya. Untuk laki-laki yang dulu pernah kubenci. Yang kini tlah dapat mencapai cita-citanya. Sudah 7tahun lamanya aku menjalin cιπ†α dengannya. Dan bulan depan, aku mulai akan membangun sebuah keluarga.

"Iya Vino, iya aku bakalan makan deh iya... Udah ah cepet lanjutin ƘεяĴά nya!"
Klikk
Setelah selesai menelpon Vino kembali Aku berjalan menyusuri anak tangga yang. mengantarkan ku pada ruang bawah..
Brakkk Brukkk
Tubuhku terjatuh dari tangga. Kaki ku berdarah dan tangan ku luka memar.
Pandanganku mulai gelap, semakin gelap.
* * *
Kubuka perlahan kelopak mataku, setelah ku tengok kanan kiri dikelilingi oleh peralatan medis yang sering digunakan oleh para Doktor.
Kutatap wajah Mama ku yang sedang tertidur pulas disampingku.
Dia sedikit terbangun akibat gerakan tanganku yang terganggu dengan infus.
Dddrrrttttt...
Handphone ku bergetar, segera kuambil hape ku diatas meja tepat disampingku.
{ Jessica!km knp syg?!gmn?udah ada pendonor darah ЪªªK̶̲̅ ? }
Ya Tuhan segitu khawatirkah kekasihku? Aku tersenyum melihat pesan dari Vino.
* * *
"Hmm maafkan saya, ini hasil dari ronsen kemarin. Anda terkena penyakit Hiv" jelas Dokter padaku saat aku memeriksakan tubuhku setelah terjadinya kecelakaan saat aku jatuh dari tangga dan memerlukan donor darah dari seseorang. Hatiku seakan ingin retak kembali saat mendengar kata "HIV". Kapan kah penyakit ini menyerang tubuhku?itu artinya, aku tak dapat melanjutkan rancangan acara pernikahanku. Hidupku hanya seumur jagung. Aku tak ingin melihat Vino menyesal telah menikah denganku.
* * *
"Vin, aku ingin mengakhiri semuanya" ujarku pelan.
"Tidak!sekarang ikutlah bersamaku, kita obati penyakitmu, aku tak peduli berapa lembar yang akan ku keluarkan, aku rela jatuh Miskin asal Kª♍ΰ tetap hidup dan menjadi istriku"
Aku menangis dipelukannya, kupegang erat-erat tangannya. Dia memapah tubuhku dan membawaku dimobilnya. Segera ku hapus peluh air mataku. tangan kanan nya memegang stir mobil sedangkan tangan kirinya sibuk memegang erat tanganku.
"Bersabarlah sayang aku nggak bakalan ninggalin kamu, Jessica harus janji sama aku bahwa jessica nggak bakalan ninggalin aku!".
***
Sudah cukup ini penderitaan yang sangat menyakitkan. Sudah 4 kali aku menjalani kemotherapy dan 3 kali melakukan operasi, †̥̥ά̲̣̥Ƥɪ̣̝̇ apa? Aku tetaplah seorang wanita yang mengidam penyakit menjijikan.
Hidupku sekarang. tergantung dengan peralatan medis yang menempel ditubuhku. Aku sudah tak kuat menahan rasa sakit yang aku derita selama seminggu. Namun Vino tetap menghalangi ku untuk pergi.
"Jessica harus kuat" ujarnya.
Ku gelengkan kepala perlahan, tak terasa air mataku tlah mengalir membasahi pipi ku.
"Kenapa! Jessica harus kuat, kita bertahan !harus bertahan"
Seorang Suster dan Dokter datang memasuki ruangan ini.
"Mas, sudahlah mas ikhlaskan saja dia pergi. Mbak Jessica sebenarnya merasakan kesakitan yang luar biasa. Karna hidupnya kini diambang peralatan medis" ucap suster yang sering merawatku saat dirumah sakit.
"Aa a a aku ingin pergiii"
"Maafkan aku Jessica,aku tlah membuatmu kesakitan"
"Ng ng nggak perlu minta maaf, kau adalah pacarku yang paling baik"
Kulihat wajah Vino tlah dipenuhi dengan air matanya sendiri. Aku semakin tak tega menatap wajahnya.
Nafasku mulai terpenggal-penggal saat suster mulai mencabut peralatan medis yang menempel ditubuhku. Sakit, sakit sekali. Pandanganku Gelap , sangat mencekam.. Dan akhirnya aku mulai pergi.. Aku bangun dari jiwa ku. Aku pergi hanya membawa Cιπ†α yang masih aku genggam dihati. Akan ku buktikan kepada bulan, bahwa aku bangga mempunyai kekasih seperti Vino. Dan berulang kali kukatakan kepada Tuhan........
Terima kasih Tuhan..
Kau telah mempertemukan Cιπ†α.
Dua inshan yang saling mencintai.
Dua ishan yang saling menyayangi.
Terima Kasih Tuhan..
Tlah berikan aku kebahagiaan.
Mengirimkan dia sebagai hatiku.
Hanya Maut yang memisahkan.
Memisahkan satu Garis ...
Dibelah menjadi dua
Aku disini dan dia disana...
Namun cιπ†α kita akan slalu menyatu.








by: Octaviana